#TanyaPenulis: Morra Quatro

 

morra-dalam

What If adalah karya terbaru dari Morra Quatro yang berisi tentang harapan, kenyataan, dan hidup yang tak selalu berpihak—hingga memaksa Jupiter dan Kamila menjadi lebih kuat daripada yang mereka sadari. Sebelumnya, Morra juga menulis Forgiven, Notasi, dan Believe. Ingin tahu lebih dalam tentang karya Morra? Yuk, kita simak tanya jawab di bawah ini.

@ariniangger: apa yang membedakan novel #WhatIf dengan novel kebanyakan? Apa wajib kita baca dan ketahui?

Beberapa kali, saya berdebat dengan editor Widya Oktavia tentang konten novel ini. Karena berani, berbeda, dan begitu kontra budaya. Di sela-sela kisah cinta Kamila dan Jupiter, serta persahabatan mereka dengan Finnigan (yang tampan itu :D), ada gagasan-gagasan tentang kehidupan sehari-hari yang tidak umum. Barangkali, bahkan mungkin bertentangan dengan yang telah ada di sekeliling kita begitu lama--yang bahkan membuat saya berterima kasih kepada tim Mbak Iwied karena mengizinkan ini terjadi.

Itulah yang ada di What If.

Selain itu, seperti Einstein bilang, “All the inspiring things are always created by individuals who can labor in freedom.” Novel ini saya tulis dengan kerja keras dan suka cita—labor in freedom—dan saya yakini kedua hal tersebut sebagai jaminan mutu.

@evitta_mf: gimana sih caranya biar ga tergoda menulis cerita lain saat satu cerita saja belum selesai?

Saya sendiri belum bisa menyelesaikan persoalan ini.

Waktu bekerja dengan editor Christian Simamora, beliau punya istilah untuk ini; seperti godaan untuk selingkuh ketika kamu sudah terikat suatu hubungan. Menurut saya itu kurang lebih benar. Tapi, berhubung dalam ‘perselingkuhan’ ini tak ada pihak yang disakiti, saya masih melakukannya. Ide novel What If (waktu itu berjudul The Girl With Kaleidoscope Eye) bahkan saya tulis ketika masih berada di tengah penulisan novel lain, dua tahun yang lalu. Saya justru menuliskannya karena ide yang muncul begitu saja, waktu itu, rasanya segar dan justru orisinil. Agar tak ada yang terlewat seandainya penulisan ditunda, juga karena bila dibiarkan di dalam kepala rasanya terlalu bising. Meskipun kemudian penulisan pertama mengalami banyak perubahan, pengalaman menulis ide yang baru muncul itu membahagiakan. It’s worth it.

Yang sering terjadi, ketika kembali lagi dengan cerita tulisan pertama--hubungan yang asli--saya merasa lebih berjarak, dan punya suplai tenaga baru untuk melanjutkan.

@rara_179: Gimana cara Kakak membuat twist ending yang gak diduga sama pembaca (like Forgiven and Notasi)?

Dengan Forgiven dan Notasi, most of the time, twist ending muncul begitu saja.

Saya terbiasa tidak menulis plot sebelum menulis novel. Saya punya plot, tentu, tapi itu tersimpan sebagai sebagai “sesuatu yang saya ingin orang tahu”. Sesederhana itu. Kebiasaan ini tidak disarankan, tapi saya tak terbiasa menulis sub-sub plot. Keuntungannya; saya terbuka dengan kemungkinan-kemungkinan konflik, yang sepenuhnya terbebas dari ikatan kerangka plot. Saya juga membiarkan karakter bercerita, membiarkan pro dan kontra sebagai konsekuensi dari tindakan-tindakan mereka terjadi. Kadang-kadang dikejutkan sendiri dengan apa yang mereka (karakter-karakter itu) buat dan dengan begini, saya lebih menikmati proses penulisan. Twist ending lahir dari keadaan ini.

Kerugiannya: pengaruh psikologisnya besar. Kita bisa sangat menjiwai karakter, bahkan cenderung meniru kelakuan mereka secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dan itu melelahkan.... :(

@hidyanuralfi: aku merasa proses 'telling' Kak Morra di tulisan-tulisannnya selalu bernyawa. Ada teknik khusus, Kak?

Beberapa waktu yang lalu saya berbagi dan ngobrol dengan Adhitya Mulya (penulis Jomblo, Gege Mengejar Cinta, Sabtu Bersama Bapak), dan seperti biasa beliau keluar dengan ide-ide mengagumkan. Salah satunya, apa yang membuat seorang penulis menjadi sekadar penulis, dan apa yang membuat penulis lebih dari itu, yaitu seorang story-teller. Seorang penulis menuturkan ceritanya lewat tulisan, secara verbal, dengan kata-kata. Berbeda dengan story-teller. Story teller menuturkan ceritanya dengan segala device yang ia bisa--lirik, musik, foto, lukisan, media apapun.

Pada intinya, yang kemudian saya pahami, seorang story-teller mempergunakan SEMUA INDERA yang ia punya untuk memberikan cita rasa pada apapun yang ia ceritakan. Itu sebabnya orang merasakan kisah dalam lagu-lagu Taylor Swift, ikut bersedih hanya karena memandang foto, atau merasakan marah yang keluar lewat puisi. Ini adalah produk story-telling. Jadi, story-telling tidak hanya terjadi secara verbal.

Yang saya berusaha terapkan dalam tiap novel yang saya tulis adalah teknik ini. Karena saya menceritakannya lewat novel, alat yang saya punya adalah kata. Saya banyak membaca--SANGAT suka membaca--salah satunya untuk memperkaya modal ‘alat’.

Teknik story-telling tidak hanya memberi ‘nyawa’ pada cerita, tapi juga membuat kisahmu terasa asli, seolah baru pertama kali dan benar-benar terjadi.

@kikinimrodel: Gimana cara mengembangkan lirik lagu-lagu favorit Kakak yang sepenggal itu menjadi sebuah cerita utuh?

Sebenarnya, mungkin bukan mengembangkan lirik lagu, meskipun terasa seperti itu. Lagi-lagi, jawabannya ada di teknik story-telling. Saya penyuka musik, dan bila kamu benar-benar mendengarkan, bunyi-bunyian punya kemampuan mewakili emosi manusia. Yang terjadi dengan William di Forgiven (lagunya Champagne Supernova - Oasis) dan Edgar yang kisahnya yang saya tulis di blog (lagunya lagu-lagu Coldplay dan The Script), adalah menerjemahkan emosi yang dibawa bunyi-bunyian itu menurut interpretasi saya sendiri. Saya senang melakukannya.

@DessyUbayours: Bagaimna trik menyelipkan sedikit ilmu pengetahuan dalam novel agar tidak terasa berat & diskip oleh pembaca?

Einstein lagi; “If you can’t make it simple, then you don’t understand it enough.”

Jadi bila kamu benar-benar menguasai ilmu pengetahuan itu, kamu pasti mampu membuatnya terasa sederhana. Apa-apa yang kamu ketahui hanya perlu dibiarkan keluar secara natural. Tidak perlu sok tahu atau berusaha terdengar pintar. Bila terlalu sedikit, perdalamlah sehingga cukup. Bila terlalu banyak, biarkan keluar sesuai proporsinya.

Selain itu, dengan novel-novel saya, saya dibantu banyak oleh tim editor Gagasmedia yang superteliti itu untuk memberikan proporsi yang pas, bagian-bagian riset yang mana yang harus masuk ke dalam novel dan mana yang tidak.

@RiniCipta: apa yang jadi ciri khas dari setiap tulisan Kakak?

Saya menulis apa yang ingin saya tulis; I’m writing myself out. Saya senang bila ini disukai. Tapi bila tidak, saya akan terima itu sebagai resiko.

Selebihnya, saya rasa biar pembaca saja yang menjawab apa yang menjadi ciri khas tulisan saya.

@Istiand: apakah kondisi psikologis (senang/sedih) bisa mempengaruhi alur dari cerita yg telah dibuat?

Pertama, saya tidak membuat alur cerita. Yang saya miliki hanya ide.

Tapi, saya lupa siapa--Kurt Vonnegut, Ernest Hemingway, atau J.D. Salinger--yang pernah membalas pertanyaan “What makes a good writer?” dengan jawaban, “I’m not sure, but I know, not a happy person.” Jadi apakah kondisi psikologis berpengaruh atas apa yang kamu tulis? Tentu saja.

Bagaimana pengaruhnya? Tunggu, itu tidak ditanyakan, hahaha. Lagipula, jawaban ini ada di ranah Sastra, yang biasa dijadikan bahan skripsi. Terlalu kompleks untuk dijabarkan dalam beberapa paragraf, dan tak selalu serupa antara satu karya dengan yang lain, antara satu penulis dengan yang lain.

@peri_hutan: gimana cara bikin sad ending yang tetap disukai pembaca? @miss_morra selalu berhasil soalnya.

Terima kasih sudah suka.

Tapi, realistic ending, sad ending yang disukai, apapun istilahnya, kebanyakan itu terjadi tanpa saya maksudkan demikian. Bila akhirnya begitu, bisa jadi itu hanya karena memang itulah yang hendak saya sampaikan sebagai ide awal. Saya akan senang bila sesekali bisa menulis happy ending, kok.

@p_ambangsari: cara buat paragraf pembuka yang bikin ketagihan apa aja sih, Kak?

Saya menulis apa yang saya suka, terutama sebagai pembuka. Bila saya tidak ketagihan dengan itu, bagaimana orang lain bisa?