• img-book

SKU: 979-780-606-5 Category:

Kelakar #tanpabatas

Judul: Kelakar #tanpabatas Penulis: Sammy @notaslimboy Jumlah Halamanan: 188 hlm Ukuran: 13 x 19 cm Harga: Rp40.000 ISBN: 979-780-606-5 Macetnya Jakarta memang udah nggak ketolongan. Untung film Fast and Furious yang kelima mainnya di Rio de Janeiro, Brazil, bukan di Jakarta. Kebayang nggak kalau syutingnya di Jakarta? Bisa-bisa, pas adegan kejar-kejaran pake mobil, Vin Diesel […]

Rp40.000

About This Book
Overview

Judul: Kelakar #tanpabatas
Penulis: Sammy @notaslimboy
Jumlah Halamanan: 188 hlm
Ukuran: 13 x 19 cm
Harga: Rp40.000
ISBN: 979-780-606-5

Macetnya Jakarta memang udah nggak ketolongan. Untung film Fast and Furious yang kelima mainnya di Rio de Janeiro, Brazil, bukan di Jakarta. Kebayang nggak kalau syutingnya di Jakarta? Bisa-bisa, pas adegan kejar-kejaran pake mobil, Vin Diesel dan The Rock kena macet. Terus, mereka akhirnya memutuskan buat turun dari mobil dan… naik ojek.

Selalu ada cerita menarik setiap kali kita mengamati hal-hal di sekitar. Inilah yang ditangkap oleh kacamata seorang Sammy @notaslimboy. Dia menuangkannya secara cerdas dan jenaka dalam bentuk opini, cerpen, dan kumpulan humor. Dari kondisi sosial-politik di Indonesia sampai dunia stand-up comedy yang digelutinya saat ini.

Melalui Kelakar #tanpabatas, Sammy mengajak kita memandang berbagai isu di negeri ini dari sudut yang berbeda.

*****

Sam D. Putra, atau yang biasa dipanggil Sammy, adalah seorang comic yang kerap berkomedi dengan bahasa yang terkadang vulgar dan analogi nyeleneh. Selain sebagai comic, saat ini Sammy juga menjadi koordinator tim kreatif sebuah acara stand-up comedy yang ditayangkan di MetroTV, berjudul “Battle of Comics”.

“Sammy tidak sekadar menulis buku, tetapi juga mengajar kita di sekolah yang tanpa batas.”
–Pandji Pragiwaksono, comic dan penulis Merdeka Dalam Bercanda

“…Sebagai comic, Sammy mempunyai kemampuan mengungkap apa yang ‘disembunyikan’ tanpa kita menyangkanya. Kita tertawa, tetapi kemudian tercerahkan karena bisa melihat satu hal secara berbeda.”
–Agus Noor, penulis Sentilan Sentilun

Facebook Comments