#TanyaPenulis: Vabyo
On October 24, 2017 | 0 Comments

Setelah terserang strok beberapa tahun lalu, Valiant Budi a.k.a Vabyo bangkit kembali dengan menghadirkan karya terbarunya yang berjudul Forgotten Colors. Novel yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi Vabyo ini begitu menarik untuk dibaca.

Siapa sangka, di balik pembuatan novel ini pun Vabyo berjuang untuk menggali kembali kenangan-kenangan yang sempat hilang. Seperti apa kisah di balik penulisan Forgotten Colors? Yuk, kita simak melalui #TanyaPenulis di bawah ini.

moodisaa_: Saya terkesan dengan behind the scene pembuatan novel ini, bahwa menulis novel Forgotten Colors adalah salah satu medium pemulihan Vabyo setelah terkena serangan strok 2015. Bagaimana penulis bekerja terhadap penulisan novel ini? Beri kami motivasi untuk bisa berkarya dalam kondisi apa pun.

Vabyo: Selama pemulihan pasca-strok, saya curhat melalui hashtag #vbRecoveryDiary sekaligus kembali belajar menulis. Awal-awal pemulihan saya sering hilang ingatan, terapi menulis membantu mengasah ingatan saya. Curhatan itu saya olah jadi novel Forgotten Colors. Ketika ‘terancam mati’ saya justru semakin semangat hidup.

iinindarwati22: Apakah ada pengalaman paling mendalam dari semua pengalaman yang sudah dilalui saat penulisan novel Forgotten Colors ini?

Vabyo: Saya menceritakan pengalaman saat terkena strok dan masa pemulihannya melalui karakter Arka di Forgotten Colors ini. Jadi pengalaman paling mendalam selama menulis novel ini adalah mengutak-atik luka yang belum tuntas mengering

rohaenah1: Apakah buku ini diangkat karena pengalaman pribadi, soalnya saya kepo akun Kakak dulu pernah mengalami strok, ya (maaf kalo salah)? Bagaimana cara Kakak bangkit dan mewujudkan suatu karya baru yang sebenarnya berangkat dari keadaan yang tidak bisa dikatakan mudah?

Vabyo: Iya benar, novel ini berdasarkan pengalaman pribadi saat terserang strok. Saat masa pemulihan, saya sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan otak saya, kenapa saya bisa jadi hilang ingatan sedemikian rupa. Jadi, rasa penasaranlah yang membangkitkan saya.

anisazahra01_: Jika Kakak sebuah novel, ingin ditulis oleh siapa dan apa alasan Kakak ingin ditulis oleh pengarang tersebut?

Vabyo: Penginnya ditulis @windy_ariestanty. Pertama: dia lihai menulis, kedua: dia paham saya.

Ikeanugrah: Terkadang, bagi sebagian orang, pengalaman buruk terutama tentang penyakit akan indah disimpan rapat dan enggan membagikannya kepada orang lain dengan alasan yang bermacam-macam. Namun, beda dengan Kak Vabyo, pengalaman buruk itu malah dijadikan bahan cerita novel yang terkesan ringan tapi penuh arti yang mendalam. Satu pertanyaanku: saat Kakak memutuskan menulis cerita ini, adakah tebersit keraguan di dalamnya?

Vabyo: Wah, banyak sekali keraguan itu. Termasuk apakah penerbit masih mau mencetak buku saya. Ngomong-ngomong saya sempat merahasiakan penyakit. Tapi gara-gara penyakit, saya jadi belajar ilmu baru. Dan saya ingin belajar dan bertukar pikiran dengan banyak orang. Ternyata berterus terang, membantu masa pemulihan.

Shelmaatira: Adegan/bagian apa dari novel Forgotten Colors yang paling susah ditulis? Apa tujuan paling dominan Kakak membuat novel ini?

 Vabyo: Bagian pembuka. Soalnya banyak alternatif di kepala untuk memulai novel ini. Tujuan saya biar kami sama-sama belajar tentang strok dan ada apa di otak kita ini.

Nristaa: Kenapa harus mengandaikan sebuah warna sebagai kata-kata yang penuh makna? Adakah hubungan setiap warna dengan perasaan penulis. Dan bagaimana caranya kita menganalogikan sebuah warna dengan perasaan yang penulis miliki?

Vabyo: Karakter utama novel ini seorang pelukis :)

Xxitriani: Kak Vabyo, apa yang biasanya Kakak lakukan untuk menemukan judul novel yang bisa mewakili keseluruhan isi cerita?

Vabyo: Berdiskusi dengan editor, lalu bikin poling di Twitter :)

apw.itang: Kak Vabyo, setiap manusia itu pasti punya cerita kehidupan sendiri. Bahkan ada yang menangis tiada henti mungkin karena memang sudah tak ada harapan. Tapi di buku Kakak itu berbeda. Kita disuruh maju, entah bagaimanapun itu. Untuk aku pribadi pun sering kali ingin menyerah bahkan pernah menyerah. Kak, apa sih yang harus kita lakukan untuk tetap bisa menatap ke depan dan percaya untuk bisa bangkit? Apakah dengan percaya saja itu cukup?

 

Vabyo: Salah satu alasan kenapa saya tidak ingin menyerah, saya nggak mau terlalu lama menyusahkan orang. Saat kena strok, keluarga dan sahabat jadi sibuk, itu bikin saya sedih. Jadi selain percaya, saya rasa harus pintar-pintar memilih lingkungan dan teman, agar kita bisa saling bantu dan saling sayang.

 

Nah, bagi kamu yang belum memiliki bukunya, segera merapat ke toko buku terdekat atau unduh e-book-nya di PlayStore, ya.

 

 

Foto dari Instagram.com/vabyo

Facebook Comments

Leave a reply

  • More news