Dee, Sang Barista

SORE itu, Dee terlihat ceria. Ia datang dengan senyum mengembang. Belum lagi duduknya sempurna di salah satu sofa Tea Addict, Dee dengan antusias memamerkan foto anak dan suaminya, Keenan dan Marcel.

"Liat deh, anak gue lucu, ya!! Gue ampe teriak-teriak sendiri pas ngeliat fotonya!" pamernya dengan wajah berbinar. Lalu dengan santainya ia mencomot kentang goreng yang ada di meja. "Eh, bagi, ya!"

SORE itu, Dee terlihat ceria. Ia datang dengan senyum mengembang. Belum lagi duduknya sempurna di salah satu sofa Tea Addict, Dee dengan antusias memamerkan foto anak dan suaminya, Keenan dan Marcel.

"Liat deh, anak gue lucu, ya!! Gue ampe teriak-teriak sendiri pas ngeliat fotonya!" pamernya dengan wajah berbinar. Lalu dengan santainya ia mencomot kentang goreng yang ada di meja. "Eh, bagi, ya!"

Buku yang berjudul Soul Mate itu memuat sejumlah foto-foto artis dengan anaknya. Ada tiga foto Marcel dan Keenan yang termuat di situ. Semuanya dalam ekspresi tertawa. Keenan buah hati Dee, terlihat nyengir lebar di dalam pelukan ayahnya. Giginya yang baru tumbuh satu menyembul membuatnya semakin lucu.

"Kok nggak dibawa?"

"Dia lagi mandi."

Sambil menguyah kentang, Dee bercerita kalau dia tadi agak kesulitan menemukan lokasi Tea Addict yang terletak di kawasan Gunawarman. "Sopir gue juga bingung!" Dee terkekeh. Minggu, 12 Februari, sehabis latihan dengan teman-temannya yang akan mendukung  acara Launching Filosofi Kopi, Dee segera meluncur untuk bertemu GagasMedia, membahas acara peluncurannya.

"Katanya Filosofi Kopi, kok di tea lounge, sih?"

"I love tea and coffee! Hehehehe." Dee membuka buku menu. "Aku mau kentangnya lagi, ya!" pintanya.

Obrolan berkaitan dengan acara launching Filosofi Kopi, buku terbaru karya Dee, terus berlanjut. Mulai dari tempat hingga menu. Dee terlibat langsung. Ia seperti ingin memastikan, semuanya berjalan seperti yang ia inginkan. "Gila, gue ampe nggak bisa tidur semalam. Makanya, gue SMS elo," katanya pada Angeli, Manajer Promosi AgroMedia Group.

***

PERFEKSIONIS, itu anggapan orang tentang Dee. Padahal, Dee yang memulai debutnya sebagai penulis dengan karya ‘Supernova: Ksatria, Puteri, Bintang Jatuh’ ini sangat menyadari mana ada yang sempurna di dunia ini. "Tak ada yang sempurna. Semuanya ada untuk saling melengkapi," ujar Dee tentang pandangan hidupnya. Apa yang menjadi pandangan hidupnya ini dituangkan Dee dalam Buddha Bar, sebuah cerpen yang terdapat dalam Filosofi Kopi. "Buddha Bar adalah sebuah kisah yang menggambarkan sosok aku, pandangan hidupku."

Dikenal terlebih dahulu sebagai penyanyi, tanpa disadari Dee telah memberikan ciri tersendiri dalam bentuk tulisannya. Dee menjadi sangat peka pada ritme. "Awalnya, aku tidak menyadari ini. Aku baru sadar ketika meminta Goenawan Mohammad memberikan kata pengantar. Ternyata, sebagai pembaca, Mas Goenawan bisa merasakan ini. Bahwa kalimatku berhenti pada ritme yang diinginkan.

"Seperti dalam Spasi (1998). …Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tetapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi, jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.

***

MEMASUKI dunia kepenulisan mengantarkan Dee bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Beberapa kali mengikuti festival penulis di Ubud, Dee merasakannya sebagai sebuah kesempatan yang menakjubkan. Ia bertemu dengan penulis-penulis hebat yang memiliki ide-ide luar biasa. Penulis, menurut Dee, menciptakan dunianya sendiri. Karakternya sendiri. Playing God, istilahnya. "Dan ketika, seseorang sudah seperti itu, pasti orang itu memiliki kualitas tertentu."

Hubungan yang terjalin dalam dunia kepenulisan pun dirasakan Dee lebih intimate. Dee menggunakan kata ‘gila’ untuk mendeskripsikan otak para penulis. Kegilaan yang jenius. "Gue pernah baca, salah satu profesi yang rentan untuk menjadi gila adalah penulis."

Lalu, untuk mendeskripsikan kata menulis itu sendiri?

"Kata yang paling tepat untuk menggambarkan menulis itu sendiri adalah terapi," ujar Dee tegas.  Dee bahkan tak memerlukan waktu buat berpikir ketika diminta untuk memilih satu kata yang menggambarkan ‘menulis’.

Dee menganggap aktivitas menulis adalah terapi baginya. Selain menulis sebagai profesi, Dee memandang menulis adalah sebuah kebutuhan. Entah itu menulis lagu ataupun buku. Ini adalah bentuk kegelisahan yang harus diledakkannya. "Untuk sebagian orang, kegelisahan itu bisa mereka luapkan dengan curhat dan menelepon seseorang berjam-jam. Atau bisa dengan marah, nangis. Tetapi aku, akan meluapkannya dengan menulis atau bikin lagu."

"Ini sebuah mekanisme. Dan untukku itu sebuah terapi supaya aku tetap bisa jadi manusia yang seimbang. Supaya apa yang ada di dalam sini…," Dee menunjuk ke arah kepalanya, "itu bisa terventilasi dan tidak menyesak di dalam."

Dee mengakui bahwa tantangan terbesar dalam menulis adalah mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan sifat malas yang tiba-tiba timbul dan membuat kita berhenti menulis. Tetapi, Dee sadar, ada sesuatu yang tak bisa dipaksa. Kadang, ketika writer blocks menyerang, Dee memilih berhenti menulis. Berhenti bukan berarti diam. Ia akan melakukan aktivitas lain yang nyaris tak ada hubungannya dengan menulis. Dan kemudian, ide pun datang kembali.

"Kalo writer blocks-nya keterusan…paling banter gue mandi. Ntar ide nongol lagi. Mungkin ada hubungannya denga air. Gue ngga ngerti, deh."

Ibarat pelari, perempuan yang lahir tiga puluh tahun silam ini merasa tercipta sebagai pelari marathon. Harus menempuh perjalanan yang panjang. Tak heran, naluri kepenulisannya secara alamiah cenderung ke arah novel. Ini bukan berarti ia membatasi diri untuk sekedar menulis novel. "Karena itu aku mencoba menulis cerpen." Sesekali ingin mencoba sprint (lari jarak pendek). Menurutnya, apa yang ia lakukan sekarang (membuat kumpulan cerpen) adalah bentuk proses belajar.

***

KARYA-karya Dee sempat menjadi perdebatan. Terutama sikap Dee yang dikenal tak mau karyanya mengalami proses editing. Bahkan, ada yang memandang, Dee seolah menjadi dewa baru dalam dunia kepenulisan karena sikapnya ini.

"Ini kesalahan aku dari awal," akunya. "Aku keliru memahami proses editing dalam dunia perbukuan."  Ia berhenti sebentar. Mengangkat gelas dan menyeruput es pesanannya. Yang ada di benak Dee ketika mendengar kata edit, dia mereferensikannya seperti seorang produser musik yang mendikte penyanyi. Lagu ini kurang nge-pop-lah, kurang komersiallah. Dee tidak bisa mengompromikan hal-hal seperti itu.

Dee menyadari kekeliruannya. "Aku sangat mendukung proses editing." Sebagai penulis, ia belajar banyak justru dari proses editing yang berulang itu. "Aku jadi tahu mana yang baku, mana yang tidak. Mana yang EYD, mana yang bukan. Untuk pengeditan seperti ini, aku rasa penting." Sekarang, mata Dee seperti mata seorang editor ketika mengamati sebuah naskah. Ia menjadi peka terhadap naskah, bagian mana yang dirasakan berantakan dan penulisannya tidak tertib. "Untuk aku sendiri, seorang penulis harus tertib."

Tertib. Ya, sebab, buku akan dibaca banyak orang, dan dari bukulah pembaca mempelajari bahasa. Kalau seorang penulis dan penerbit tidak memiliki aturan yang tertib, maka akan memengaruhi khalayak. Pembaca pun menjadi terbiasa tidak tertib dalam menulis. "Aku mendukung proses editing demi ini. Seperti ketika kamu menelepon aku untuk menanyakan beberapa hal yang menurut kamu belum tertulis baku." Dee mencontohkan proses Filosofi Kopi di GagasMedia. Bagaimana ia menunjukkan sikap bekerja sama ketika beberapa kata dan penulisan dalam Filosofi Kopi dipertanyakan.

"Kecuali yang berhubungan dengan gaya bahasa. Aku akan melihat dulu, apakah aku memiliki kepentingan dan tujuan di balik kalimat itu atau tidak. Kamu masih ingatkan ketika kamu menelepon dan menyarankan meletakkan titik pada satu kalimat yang terasa kepanjangan. Saat itu, aku mengamati juga kalimat yang kamu maksud. Apakah dengan meletakkan titik, tidak akan mengubah maksudku. Jika tidak, ya, tidak apa-apa."

***

TAK ada yang mengkristal dalam kamus Dee. Ia memang tak pernah berhenti. Otaknya masih menyimpan ribuan kilo bytes ide yang harus diledakkan menjadi jutaan huruf di halaman buku. Apa obsesi ke depannya?

"Aku pengen bikin double karya," katanya memberi bocoran. Dee menyebutnya ini sebuah eksperimen. Peleburan dua industri yang beda, musik dan buku. Sebuah novel lepas dan lagu. Dee menyebutnya buku musik. Karya ini nantinya akan bercerita dari dua sisi yang berbeda, tetapi ada penyambungnya. Yang satu dari sisi musik, yang satunya cerita. Keduanya seperti saling bercermin. Ini bukan soundtrack dari buku, atau sebaliknya. Keduanya bisa independent. Tetapi ketika kedua karya ini dicerminkan satu sama lain, ada yang menyambungkannya. "Misalnya, dari sisi lagu, aku bercerita dari perspektif orang yang menunggu. Sedangkan dalam versi bukunya, aku bercerita dari perspektif orang yang mengejar."

Dari sisi lagu, Dee sudah menyiapkan semua. Sedangkan dari sisi cerita, baru rampung 50%. Dee menyadari, mengawinkan dua industri yang berbeda ini agak susah. Bagaimana mempertemukan penerbit dengan produsernya. "Ini udah masuk masalah teknis, sih. Dari aku, untuk sisi ide dan materinya udah siap banget."

Dee, sang Barista. Ia meramu kopinya dengan cara ia sendiri. Buat ia, kopi hanya persoalan menuangkan serbuk kopi dan air hangat. Sesempurna apa pun kopi yang diraciknya, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin disembunyikan. Dan, Dee memang tak pernah memaksudkannya untuk sempurna. Sebab, dengan ketidaksempurnaan itulah hidup menjadi seimbang. Dan tentunya,  indah.


Bio-Dee

Nama   : Dewi Lestari/ Dee
Tempat/tanggal lahir : Bandung, 20 Januari 1976
Hobby   : Musik, baca, menulis

Marital Status  :
Nama Suami  : Marcellius Siahaan
Nama anak  : Keenan Avalokita Kirana

Warna Favorit  : Hitam Putih, Hijau Biru
Buku Favorit  : Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono
Penulis Favorit  : Ana Castillo, Dave Eggers, Ayu Utami, Sapardi Djoko Damono
Film Favorit  : Lord of The Ring, Matrix
Bibliografi  :
1. Supernova ‘Ksatria, Puteri, Bintang Jatuh’ (2001)
2. Supernova ‘Akar’ (2002)
3. Supernova ‘Petir" (2004
4. Filosofi Kopi (2006)

Leave a Reply

Your email address will not be published.