Dengan Jari Aku Melihat Dunia, Dengan Jari Kita Bergandeng Tangan : Mari Peduli!

Sebelumnya GagasMedia tak pernah tahu cara menghadirkan bacaan bagi penyandang tunanetra. Tak pernah membayangkan kalau buku-buku terbitannya juga diminati oleh mereka. Hingga pada suatu hari, Yayasan Mitra Netra (YMN), sebuah lembaga nirlaba yang bergerak pada bidang pemberdayaan penyandang tunanetra datang dan mengajak bekerja sama.

Sebelumnya GagasMedia tak pernah tahu cara menghadirkan bacaan bagi penyandang tunanetra. Tak pernah membayangkan kalau buku-buku terbitannya juga diminati oleh mereka. Hingga pada suatu hari, Yayasan Mitra Netra (YMN), sebuah lembaga nirlaba yang bergerak pada bidang pemberdayaan penyandang tunanetra datang dan mengajak bekerja sama.

Adalah Miranda, penulis novel adaptasi UnguViolet terbitan GagasMedia yang mempertemukan GagasMedia dan YMN. Berawal dari kabar seorang teman yang memberitahu Miranda bahwa bukunya masuk dalam Program Seribu Buku untuk Tunanetra. "Itu saat pertamaku berkunjung ke website mereka, melihat buku-buku yang disumbangkan oleh para relawan, dan mencerna seperti apa sebenarnya program mereka. Sensasi pertama yang kurasakan waktu itu adalah takjub. Karena aku baru sadar, betapa kita, tanpa kecuali, bisa berbuat sesuatu untuk teman-teman tunanetra," ujar Miranda. Sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya bahwa penyandang tunanetra adalah pembaca juga.

Beranjak dari situ, Miranda mendaftar jadi relawan. "Kemudian, dari hasil ngobrol dengan teman Mitra Netra, Indah, aku ngerasa alangkah baiknya kalau penerbit ikut serta dalam program ini. Karena itu aku mengusulkan pada Indah untuk masukin proposal ke GagasMedia dan ngomong ke Mas Rudy dan Denny soal program ini." Yang dimaksud Rudy dan Dennny oleh Miranda adalah FX Rudy Gunawan -Direktur GagasMedia- dan Denny yang bekerja sebagai editor di penerbit itu.

Sebelumnya, pihak YMN pernah menawarkan proposal kerja sama dengan salah satu penebit besar. Sayangnya, ajakan kerja sama tersebut tampaknya tak ditanggapi dengan serius.

***

"DENGAN Jari Aku Melihat Dunia, Dengan Jari Kita Bergandeng Tangan" adalah sebuah program kampanye yang digalakan GagasMedia dan Forum Indonesia Membaca untuk memberikan dukungan pada Program Seribu Buku untuk Tunanetra yang dicanangkan YMN. Dalam pelaksanaannya, kampanye ini melibatkan Perpustakaan Pendidikan Nasional.

 "Kampanye ini berangkat dari keinginan untuk memberikan ragam bacaan kepada kawan-kawan tunanetra. Gagasmedia membantu dengan menghimpun penulis-penulis yang peduli untuk mem-braille-kan karya-karya mereka atau sekedar menjadi sukarelawan. Jadi, kampanye ini tidak hanya untuk penulis-penulis Gagas saja. Penulis lainnya boleh ikut bergandengan tangan bersama kami," jelas FX. Rudy Gunawan, Direktur GagasMedia. Menurut Rudy, hak cipta sepenuhnya ada di penulis bukan di penerbit. Penulis cukup menyatakan kesediaannya untuk mem-braille-kan karyanya serta memberikan soft copy file-nya.

Kampanye gerakan Dengan Jari Aku Melihat Dunia, Dengan Jari Kita Bergandeng Tangan, ini akan ditandai dengan diluncurkannya tujuh buku Braille GagasMedia pada 6 April mendatang di Perpustakaan Diknas. Tujuh buku tersebut adalah "Realita, Cinta, dan Rock ‘n Roll" karya FX. Rudy Gunawan, "Filosofi Kopi" karya Dewi ‘Dee’ Lestari, "Cintapuccino" karya Icha Rahmanti, "UnguViolet" karya Miranda, "Brownies" karya Fira Basuki, "Jomblo" karya Aditya Mulya, dan karya Ninit Yunita yang berjudul "Test Pack".

Ninit Yunita yang dihubungi Gagas ketika meminta kesediaan agar karyanya di-braille-kan menyatakan dukungan terhadap program ini. "Saya tidak berpikir dua kali untuk mengiyakan," tandas Ninit.

Keinginan untuk berbagi. Ini jugalah yang menjadi alasan utama para penulis turut bergabung dalam kampanye Gagasmedia. "Karena saya ingin teman-teman tunanetra bisa membaca apa yang saya baca; bisa memperoleh apa yang juga saya peroleh, melihat dari jendela yang sama apa yang saya lihat, dan menghasilkan sesuatu yang juga saya hasilkan," kata Miranda yang novel Sihir Cinta-nya juga ikut di-braille-kan..

Ninit pun melontarkan hal senada. Keinginannya untuk berbagi dengan temannya, yang tunanetra menyebabkan Ninit tak ragu. "Saya senang sekali dengan adanya novel berformat braille. Ini berarti penyandang tunanetra juga bisa membaca novel saya." Menurut penulis yang baru saja menyelesaikan novel adaptasi pertamanya yang berjudul Heart ini, kampanye program yang dilakukan GagasMedia adalah sebuah program yang bagus dan bertujuan mulia sehingga perlu didukung dan terus digalakan. Dia berharap, program tersebut tidak hanya berhenti sampai di sini saja.

Dunia musik mengenal Stevie Wonder yang tunanetra, namun ia tetap berkarya, menelurkan lagu-lagu yang dinyanyikan di berbagai belahan bumi. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Tak salah bila Miranda berharap program ini menjadi sebuah ‘jendela’ yang membuka ‘mata’ tunanetra terhadap fenomena dan perkembangan karya sastra di negeri sendiri. Khasanah sastra akan lebih berkembang dengan adanya masukan dan kontribusi karya dari mereka yang tunanetra.

Sejarah Huruf Braille

Suatu malam, beberapa mil jauhnya dari kota Paris, Perancis, seorang bocah lelaki kecil duduk di atas tempat tidur. Sinar bulan menembus jendela kamarnya, jatuh di wajahnya yang pucat. Siang dan malam memang tak ada bedanya bagi si bocah. Sinar matahari atau bulan tak akan pernah tertangkap indra penglihatannya. Wajah mungil milik Louis Braille berkerenyit. Ujung jarinya meraba, tangannya bergerak menekan stylus (sejenis jarum pada alat pemutar piringan hitam) pada kertas tebal.

Seandainya malam itu Braille menyerah dalam keputusasaan, mungkin, ia tak akan pernah menciptakan jenis baru alphabet yang saat ini digunakan oleh seluruh tunanetra di belahan bumi untuk membaca. Alpahabet yang kemudian kita kenal dengan sebutan huruf braille atau huruf timbul.

Louis Braille, awalnya tidak buta. Ia lahir dengan penglihatan yang sempurna. Ia menjadi buta ketika ia berumur tiga tahun. Satu hari di tahun 1812, adalah awal semuanya. Hari itu, Braille kecil mencoba memotong kulit dengan sebuah jarum pengerek di toko pelana milik ayahnya yang terletak beberapa mil di luar Kota Paris. Sialnya, jarum pengeret yang digunakan Braille kecil terpelanting dan masuk ke matanya. Dokter bilang, Braille mengalami infeksi pada matanya. Namun, beberapa hari kemudian, Braille mulai mengeluh kalau matanya terasa semakin perih. Dokter kembali dan mengatakan,"Kamu akan menjadi buta."

Tujuh tahun kemudian, keluarga Braille mengirimnya bersekolah di National Institute for Blind Children. Di sekolah ini, Braille terlihat lebih unggul dari teman-teman sekelasnya. Ia mahir memainkan alat musik, organ dan piano. Tepat ketika ia berumur lima belas tahun, Braille menyempurnakan penemuannya berkaitan dengan huruf baca bagi tunanetra.

Huruf timbul yang dikembangkan Braille berawal dari sistem komunikasi tunanetra yang awalnya diciptakan oleh Charles Barbier. Barbier menciptakan huruf tersebut berkaitan dengan permintaan Napoleon untuk menciptakan sebuah bahasa sandi atau kode rahasia di dalam pasukannya. Kode tersebut memungkinkan pasukannya berbicara tanpa suara dan lampu di saat gelap. Kode ini kemudian dikenal dengan sebutan Night Writing. Sayangnya, sistem komunikasi Barbier terlalu rumit untuk dipelajari oleh pasukan Napoleon. Pihak militer pun menolaknya.

Tahun 1921, Napoleon mengunjungi National Institute for the Blind di Paris, Perancis. Di sinilah ia bertemu dengan Braille. Braille menemukan beberapa kesalahan umum berkaitan dengan kode milik Barbier, yang mana jari-jari manusia tidak dapat menjangkau keseluruhan simbol. Di samping itu, jari manusia tidak dapat bergerak dengan cepat dari satu simbol ke simbol lainnya.

Modifikasi yang diciptakan Braille menggunakan 6 titik sel. Enam titik sel ini mampu mengombinasikan hingga 63 simbol untuk bahasa dan lebih dari dua ratus untuk bidang eksak. Inilah yang kemudian disebut dengan huruf Braille, sebuah sistem baca yang hari ini digunakan untuk tunanetra di seluruh belahan bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.