Indah Hanaco: Penulis Itu Bukan Pekerjaan Mudah!

indah-hanaco

Karena cinta seseorang bisa terluka. Namun, cinta juga bisa menjadi penawar luka hati seseorang. Itulah yang terjadi pada Jenna saat ia bertemu Melvin. Setelah mengalami pengkhianatan berulang-ulang dari Ernest—sang mantan, Jenna seolah menutup diri dari cinta. Tapi semua itu tidak berlaku saat ia bertemu Melvin, seorang pria yang membuatnya jatuh cinta lagi dan berharap bahwa dialah cinta sejatinya.

indah-hanacoKarena cinta seseorang bisa terluka. Namun, cinta juga bisa menjadi penawar luka hati seseorang. Itulah yang terjadi pada Jenna saat ia bertemu Melvin. Setelah mengalami pengkhianatan berulang-ulang dari Ernest—sang mantan, Jenna seolah menutup diri dari cinta. Tapi semua itu tidak berlaku saat ia bertemu Melvin, seorang pria yang membuatnya jatuh cinta lagi dan berharap bahwa dialah cinta sejatinya.

Kilasan cerita di atas merupakan kisah terbaru Indah Hanaco yang bisa kamu baca dalam novel Run To You (GagasMedia, 2013). Ya, Indah adalah satu dari sekian banyak penulis wanita yang cukup aktif dan produktif “melahirkan” karya. Kisah-kisah yang Indah tuangkan dalam tiap novelnya membuat kita yang membaca terhanyut di dalamnya.

Banyaknya karya yang telah Indah hasilkan tentunya membuat kita bertanya-tanya, sejak kapan, sih, Indah mulai menggeluti dunia kepenulisan?

“Sebenarnya saya mulai menulis sejak tahun 90an, tapi dalam bentuk cerpen. Lalu akhirnya saya mencoba menulis novel tahun 2010, hingga akhirnya terbitlah novel perdana saya dengan judul Mendua.

Bukan waktu yang sebentar bagi Indah untuk mengeluarkan karya dalam bentuk novel. Namun, setelah novel perdananya itu hadir tentu ada suatu perbedaan yang ia rasakan. Indah mengaku sangat sulit menggambarkan perasaan yang ia alami dengan kata-kata saat mendapati novel perdananya terbit.

“Masih sulit percaya kalau dalam waktu tiga minggu GagasMedia menyetujui naskah pertama saya. Itu seperti mimpi yang terlalu indah untuk benar-benar terjadi,” kata wanita kelahiran Pematangsiantar ini.

Mendua3Hobi nonton dan membaca
Sama seperti kebanyakan orang, Indah termasuk tipe wanita yang memiliki hobi nonton film dan membaca. Dari kedua hal inilah pada akhirnya imajinasi yang Indah miliki berkembang hingga ia memiliki keinginan untuk membuat kisahnya sendiri. Tak disangka, hal itu mengasyikkan dan membuat Indah ketagihan.

“Saya sempat berhenti menulis lebih dari 10 tahun. Mencoba bekerja kantoran. Tapi akhirnya gairah untuk menulis itu tidak bisa dibendung lagi. Menulis membuat saya menemukan dunia sendiri yang luar biasa. Bebas mau melakukan apa, bebas menciptakan karakter. Makin dijalani, makin terperangkap,” katanya.

Perjuangan menjadi penulis yang produktif melahirkan karya
Totalitas! Itulah jalan yang Indah pilih untuk menjadi seorang penulis profesional. Bahkan, Indah mengaku tidak pernah lagi meninggalkan rumah kecuali memang ada kepentingan. Dua tahun terakhir ini, Indah habiskan waktunya berjam-jam untuk menulis. Meski ia mengaku tidak ada target yang harus ia kejar.

“Tidur delapan jam sudah jadi kemewahan untuk saya,” ujarnya. “Tapi saya bahagia dengan semua itu,” tambahnya.

Perjuangan inilah yang membuat Indah sadar bahwa dalam dirinya juga terdapat sisi kompetitif dan pantang menyerah yang sebelumnya tidak pernah ia ketahui. Dari perjuangan ini juga, Indah mampu menyiapkan outline-outline yang akhirnya ia kirimkan ke berbagai penerbit.

“Setelah itu barulah ada jadwal kerja yang harus dipatuhi, berdasarkan urutan outline yang di-ACC,” kata wanita berbintang Libra ini.

Kesabaran, penolakan, dan kritik tajam
“Menjadi penulis berarti belajar menjadi orang yang sabar,” tegas Indah. “Boleh dibilang, saya nyaris tidak pernah menarik naskah meski sudah berbulan-bulan atau lebih setahun di editor.  Kecuali naskah memang sudah ditolak. Selama menunggu kabar baik dari editor, saya terus menulis. Begitu kelar, langsung dikirim ke penerbit. Begitu seterusnya,” katanya menambahkan.

Ya, bicara soal penolakan, Indah pun pernah mengalaminya. Namun, penolakan itu ia jadikan pelajaran bahwa ia harus lebih bisa menghargai pilihan orang lain. Menurutnya, naskah yang ditolak bukan semata karena tidak bagus atau jelek. Terkadang, bisa terjadi karena tidak sesuai dengan selera editornya.

Menurut Indah, penolakan bukan berarti akhir dunia. Sebaliknya, ia menganggap penolakan itu adalah cara Tuhan menguatkan mentalnya sebagai seorang penulis.

“Hal itu mengasah sisi pejuang dalam diri saya. Jadi, penolakan tidak membuat saya jatuh. Saya biasanya segera mencari penerbit lain yang kira-kira cocok dengan naskah yang sudah ditolak itu,” katanya.

run-to-you coverLantas, bagaimana dengan kritik tajam yang sering kali menghampiri para penulis?

Indah pun mengaku memang tidak mudah menghadapi kritik tajam. Meski ia bukan orang yang antikritik, tapi ia lebih melihat hal itu dari sisi cara yang digunakan seseorang untuk mengkritik.

“Banyak orang yang tidak bisa membedakan antara memberi kritik dengan menghina,” ungkapnya. “Namun, dari sana saya belajar banyak. Kritik, meski pahit, sering menjadi penyembuh. Membuat saya bisa melihat kekurangan dengan lebih lapang dada. Sementara pujian lebih banyak bahayanya karena cenderung melenakan dan bisa membuat orang menjadi sombong.”

Dari pengalaman itulah, Indah selalu berusaha menghadapi kritik dengan hati ringan. Karena, ia sadar, mustahil baginya untuk bisa menyenangkan semua orang.

Menjadi penulis itu bukan pekerjaan mudah
Yup, menjadi penulis itu memang bukan pekerjaan mudah. Setidaknya menurut seorang Indah Hanaco.

“Butuh mental baja, pantang menyerah, komitmen, disiplin tinggi, dan kesabaran luar biasa,” kata pencinta karya-karya Sidney Sheldon, Sir Arthur Conan Doyle, Sherrilyn Kenyon, Tessa Dare, Julie James, dan Julie Garwood ini.

Itulah yang Indah tekankan pada orang-orang yang ingin terjun ke dunia kepenulisan seperti dirinya. Tidak hanya itu, Indah juga menyarankan agar calon penulis atau para penulis muda jangan ragu untuk mengirimkan karyanya kepada penerbit mayor.

“Dan, jangan merasa dihantui dengan status sebagai ‘penulis pemula’. Karena semua penulis terkenal di luar sana, suatu hari dulu pun pernah menjadi seorang pemula,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.