Menertawakan Kejadian Apes Bersama Stephany Josephine

the-freaky-teppy cover

Nggak semua yang terjadi dalam hidup itu terasa indah dan penuh tawa. Ada kalanya, kamu akan merasakan kecewa, sedih, memalukan, atau kurang beruntung. Namun, semua kejadian itu jangan sampai membuatmu putus asa atau sedih berkepanjangan. Sebaliknya, kamu harus mampu memandang permasalahan itu dari sisi komedinya.

 

the-freaky-teppy coverNggak semua yang terjadi dalam hidup itu terasa indah dan penuh tawa. Ada kalanya, kamu akan merasakan kecewa, sedih, memalukan, atau kurang beruntung. Namun, semua kejadian itu jangan sampai membuatmu putus asa atau sedih berkepanjangan. Sebaliknya, kamu harus mampu memandang permasalahan itu dari sisi komedinya.

Hal itulah yang Stephany “Teppy” Josephine tuliskan dalam buku The Freaky Teppy terbitan GagasMedia. Cewek yang mulai ngeblog sejak September 2007 ini termasuk salah seorang yang memilih untuk melihat kejadian apes dalam hidupnya dari sisi komedi. Kejadian apes yang dialaminya begitu menggelitik saat ia tuangkan dalam buku tersebut.

Seperti apa dan bagaimana, sih, behind the scene penulisan buku ini? Berikut adalah hasil bincang santai GagasMedia bersama Teppy via e-mail. Selamat membaca!

Bagaimana, sih, awal mula hadirnya buku ini?
Awalnya saya ngeblog dari bulan September 2007 ketika saya duduk di semester dua kuliah. Ceritanya hanya cerita-cerita sehari-hari saya saja dan dituturkan dalam gaya bahasa sehari-hari juga, seolah saya sedang teleponan/berbicara langsung dengan orang yang saya ceritakan. Karena konsisten menulis dari tahun 2007, saya jadi “menemukan diri sendiri,” bahwa passion saya di dunia tulis menulis. Semakin saya tumbuh dewasa dengan pengalaman-pengalaman baru, cerita-cerita hasil observasi saya di blog pun makin banyak dan beragam. Yang tadinya cuma cerita waktu kuliah, sekarang jadi cerita di dunia kerja, restoran yang saya coba, buku yang saya, film yang saya tonton (dan saya review sesuka hati dengan judul “MOVIE REVIEW SUKA-SUKA”), destinasi wisata yang saya alami, dan sebagainya.

Dengan perkembangan platform social media pun, saya membagi link tulisan saya di Twitter (mulai marak di Indonesia tahun 2009), lama kelamaan traffic blog meningkat, banyak pembaca baru mulai berdatangan, dan saya jadi kenal teman-teman blogger dan penggiat social media yang lain. Suatu hari di bulan Februari 2013, Alexander Thian @amrazing) mengirimkan DM di Twitter dan mengajak saya untuk menulis buku (dia sudah lebih dulu punya buku dengan Gagas), tak lama setelah itu saya dikenalkan dengan Mbak Windy Ariestanty (Pemred Gagas) dan kami sepakat untuk membuat sebuah buku Personal Literature (Pe-Lit) non fiksi bergenre komedi. And now here I am, with the book.

Kenapa sih, kamu memilih tema keseharian ini dan menceritakannya dari sisi komedi?
Alasan saya suka menulis adalah karena menulis jadi medium untuk mengekspresikan diri dan “lari sejenak” dari masalah hidup. It’s really a stress reliever. Nah, cerita-cerita keseharian saya di blog ternyata juga banyak bisa di-relate oleh pembaca, jadi kami secara tidak langsung merasa dekat karena ternyata punya pengalaman hidup yang mirip, atau saya justru hadir dengan pengalaman sehari-hari yang ajaib. Awal ngeblog saya tidak berpikir ataupun berusaha untuk menjadi penulis komedi, hanya karena lama kelamaan menulis gaya yang terbentuk adalah gaya menulis yang apa adanya, ceplas ceplos, banyak punchline, dan bahkan kadang halusinatif, itu sebagai kompensasi dari isi ceritanya yang sebenarnya (kebanyakan) cerita sial. Jadi saya tidak memilih komedi secara langsung atau berusaha melucu, tapi karena menulis bertahun-tahun, saya menemukan gaya penuturan cerita yang paling saya sukai adalah yang apa adanya seperti ini. Kalau itu lucu bagi yang membaca, saya anggap itu bonus. Kalo saya di”cap” sebagai penulis komedi pun, itu terserah pembaca, saya mencoba versatile dalam menulis tergantung dari konteks yang dibicarakan.

Gagas Media pun mengajak saya karena penulis non-fiksi komedi di pasar buku Indonesia sedikit sekali, bahkan mungkin bisa dibilang tidak ada di Gagas, itu kenapa saya diajak Gagas untuk menjadi penulis komedi perempuan.

Ceritain, dong, proses kreatif di balik penulisan buku ini?
Penulisan bukunya memakan waktu kurang lebih 8 (delapan) bulan, dimulai dari menentukan premis utama, membuat kerangka bab di buku & sub premis (cerita per bab), dan kemudian proses penulisan. Hampir 90% ceritanya diambil dari blog dan ditulis ulang dan sisanya (agak) baru karena ada yang tentang pengalamannya baru atau saya campur dengan beberapa cerita lama di blog.

Kisaran ceritanya adalah ketika saya SMA, kuliah, dan tahun-tahun awal bekerja.

Ada kendala nggak saat menulis buku ini?
Ada banget.
Pertama, transisi menulis dari gaya menulis ngeblog ke buku. Di blog saya terbiasa dengan gaya narasi dengan sudut pandang pertama, hampir nggak ada di dialog atau deskripsi berarti tentang yang saya bicarakan. Semua sangat “Teppysentris.” Ketika menulis buku, saya harus membuat cerita tetap mengalir dan dengan gaya saya menulis, tapi tulisan saya harus bisa lebih “umum” karena pasti banyak yang nggak tahu saya siapa dan nggak pernah baca blog saya.

Selain itu saya harus lebih deskriptif (misalnya dalam mendeskripsikan tempat, orang, situasi, dan lain-lain) dan membuat bacaan lebih “hidup” dengan dialog dan tokoh-tokoh yang diceritakan harus diberi nama agar pembaca ter”hook”/ingat dengan karakter-karakter tersebut.

Di atas itu semua, membagi waktu dengan pekerjaan tetap saya dan jadwal saya traveling adalah tantangan tersendiri, tapi yang paling utama sih: membuang jauh-jauh rasa malas dan distraksi gadget. SUSAH BANGET!

Menurut kamu, susah nggak sih nulis komedi?
Ini susah juga ya pertanyaannya, hahaha… Saya nggak akan bilang ini gampang, tapi saya juga nggak bilang saya terlalu “kekeuh” berusaha melucu. Karena biasanya kalo lucu yang diusahakan itu jatuhnya malah garing. Saya tetap berpegang sama “bawaan” saya ketika menulis: saya bayangkan saya sedang teleponan sama sahabat saya dan ceria A-Z mengalir begitu saja dengan blak-blakan. Biasanya kalau bicara sama sahabat terdekat, kan kita nggak pake sensor dan apa adanya, ngalir gitu aja. Dan kita bisa bahas jokes-jokes segala rupa dan segala pandangan aneh yang mungkin orang lain nggak terpikir dengan bebas. Jadi itu aja sih trik saya. I think it your flow of story telling should be effortless.

Dari seluruh pengalaman yang kamu tulis dalam buku ini, pengalaman mana yang menurut kamu paling mengesankan? Kenapa?
Tiga bab “Shameless Assistant” karena itu perpaduan cerita miris, apes, malu-maluin, ganjen ala perempuan, dan urban ala komuter ibukota. Pokoknya kejamnya ibukota dan kejadian-kejadian bodoh di dalamnya ada di bab-bab itu, makanya saya masih ingat jelas sampai sekarang dan saya ceritakan di buku ini.

Apa semua yang kamu tulis dalam buku ini merupakan pengalaman nyata?
Yes, semuanya nyata, hanya nama-nama selain sahabat-sahabat saya di buku itu saya samarkan.

Apa, sih, harapanmu dengan hadirnya buku ini?
Semoga buku ini bisa diterima banyak orang dan pesan di dalamnya bisa jadi penyemangat untuk yang baca yang mungkin pernah/sedang mengalami kejadian yang pernah saya alami dan bikin mereka sadar bahwa mereka nggak sendirian. Seklise apapun kalimat ini terdengar, kalimat “Semuanya akan indah pada waktunya” itu bener banget. Semoga temen-temen semua bisa menemukan itu di buku ini dan ini jadi batu loncatan saya ke karya-karya berikutnya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.