Midnight Restaurant, Daniel Ahmad: “Novel ini Menghiburmu!”

tanya penulis daniel ahmad

Sebagai penulis cerita di Kaskus dan Wattpad, Daniel Ahmad memang cukup produktif dalam menghasilkan karya. Berbeda dari kebanyakan penulis, Daniel memfokuskan dirinya di genre horor. Dan salah satu karyanya, yakni Midnight Restaurant, sudah diterbitkan ke dalam novel cetak.

Ada fakta menarik di balik pembuatan karya-karya Daniel ini, lho. Yap, meski suka menulis horor, ternyata Daniel sebenarnya orang yang penakut. Nggak percaya? Baca saja pengakuan Daniel melalui Tanya Penulis di bawah ini.

 

meirahma11: Hi, Bang Daniel, jujur saya adalah penggemar tulisan Abang di Wattpad, mulai dari anak-anak Pak Jawi saya sudah suka. Tulisan Bang Daniel tuh seram-seram lucu. Saya bahkan ketawa-ketawa sendiri, padahal yang saya baca adalah cerita horor. Lho kok? Intinya saya suka tulisan Abang. Dapat ide nulis seperti itu dari mana, Bang? Caranya membagi tugas antara menulis dan kerja juga bagaimana sih, Bang, siapa tau saya bisa tiru.

 

ahmaddanielo: Terima kasih Mbak Mei, sudah mengikuti thread saya di Kaskus dan Wattpad. Saya selalu sempatkan membaca buku sebelum tidur, lalu bangun jam tiga dini hari untuk menulis. Kalau lagi libur, biasanya jam 8 pagi lanjut menulis lagi.

Karena saya orangnya bukan tipe multitasking, jadi saya gak bisa menulis di tempat kerja. Kalau sudah di kantor atau di sekolah, ya fokus sama kerjaan.

Buat saya menulis gak bisa dipaksa. Kadang bangun jam tiga pagi, tapi pikiran blank, saya tidur lagi. Tapi kalau lagi asyik nonton atau baca buku, tiba-tiba dapat inspirasi, saya langsung lari ke komputer buat nulis.

 

deto_khan: Apa yang akan Mas lakukan jika tulisan ini tidak berhasil membuat pembaca takut, merasa tegang dan merinding, setidaknya untuk orang-orang yang tidak memiliki rasa takut. Aku sendiri sangat menyukai cerita seperti ini, sayangnya rasa takut itu tidak ada, beberapa kali teman menyarankan untuk membaca novel bergenre seperti ini tengah malam. Nyatanya sama saja, aku menikmatinya dengan santai. Di lain pihak beberapa temanku sudah lari ketakutan dan tak ingin membaca malam hari, di saat itu, aku merasa ada yang salah dengan diriku. Bukan berarti aku tak berselera dengan novel misteri, aku bahkan sangat suka. Langkah apa yang sebaiknya aku ambil agar aku merasa takut? Dan, jelaskan dalam 3 kata jika Midnight Restaurant mampu membuatku bergidik dan merasa takut?

 

Ahmaddanielo: Saya tidak pernah berusaha membuat pembaca takut. Saya cuma ingin menceritakan ketakutan saya. Ya, saya penakut. Sangat penakut malah.

Kalau kata Stephen King, setiap orang punya titik takut dan titik lucunya masing-masing. Saya menyebutnya Fear Factor. Kalau kita sudah baca banyak buku horor, sudah nonton banyak film horor, tapi gak satu pun yang membuat takut, artinya kita belum menemukan Fear Factor kita. Atau bisa jadi kita salah media. Ada teman saya yang phobia darah, tapi setiap kali baca buku misteri dengan adegan pembunuhan sadis, dia biasa saja. Dia hanya takut ketika menontonnya di TV, atau melihatnya langsung.

Nah, apakah Midnight Restaurant bisa menakutimu? Ya, asal kamu membiarkannya menakutimu. Oh, saya harus menjelaskan dalam tiga kata, ya? Hehe. Buku ini menghiburmu.

 

pbookish.id: Dari manakah Kakak mendapatkan gagasan untuk membuat cerita horor yang berlatar restoran? Kejutan dan pesan apa sih yang ingin Kakak sampaikan kepada pembaca lewat buku ini?

ahmaddanielo: Dulu, saya pernah diutus untuk menghadiri seminar di luar kota. Saya dan beberapa teman ngontrak di sebuah rumah kecil. Di samping rumah itu ada warung makan.

Tengah malam kami kelaparan. Untung ada teman baik yang menawarkan diri keluar untuk beli makan. Kira-kira sepuluh menit kemudian teman saya kembali sambil ngos-ngosan. Ternyata, teman saya pergi beli makan di warung sebelah. Padahal sejak tadi pagi, warung itu tutup, dan tetangga bilang, warung itu memang sudah lama tutup setelah dapurnya kebakaran dan ada satu orang meninggal.

Pengalaman itulah yang menginspirasi saya menulis Midnight Restaurant.

 

Official.khoerunnisa: Kenapa Kakak lebih memilih genre horor daripada romance yang banyak banget digandrungi sama anak muda zaman sekarang? Dan apa yang membuat Kakak terpikir dengan ‘Midnight Restaurant’ padahal orang umumnya datang ke restoran itu antara siang-malam?

 

Ahmaddanielo: That’s it. Midnight Restaurant enggak umum.

Saya selalu gagal menulis cerita romance. Enggak tahu kenapa, pasti berhenti di tengah jalan. Mungkin karena waktu muda gak punya pengalaman romantis yang menarik. Duh.

 

Its.venusaturnus: Bisa diceritakan bagaimana awal mulanya sehingga Bang Daniel memilih GagasMedia sebagai penerbit novel Midnight Restaurant?

Ahmaddanielo: Berawal dari doa saya untuk menerbitkan buku di penerbit yang bagus. Esoknya doa saya dikabulkan lewat pesan singkat dari salah satu editornya. “Hai, kami dari Gagasmedia….” percakapan itu berlanjut sampai akhirnya buku ini terbit. 🙂

 

Dradikta: Apa yang membuat kamu memilih settingnya di restoran bukan tempat lain?

Ahmaddanielo: sudah banyak rumah angker, sekolah angker, dan kuburan angker yang diceritakan, tapi kalau rumah makan angker, kayaknya masih belum. 🙂

 

Celetukanhati: Saat dulu kali pertama menulis, kamu ingin dikenal sebagai penulis yang seperti apa?

Ahmaddanielo: Penulis yang kalau orang ke toko buku, yang dicari adalah nama penulisnya. Karena orang itu sudah percaya, kalau semua karyanya tidak akan mengecewakan untuk dibawa pulang.

 

Eugene.sensei: Bagaimana sih cara Kakak menggambarkan suasana menyeramkan dalam tulisan hingga membuat para pembaca bisa masuk ke dalam suasana cerita yang Kakak tulis?

Ahmaddanielo: Biasanya saya menghindari diksi yang membuat pembaca mikir, atau buka google buat cari tahu maksudnya. Menurut saya, itu bisa mengganggu flow membaca. Ketegangan yang sudah dibangun dari awal, jadi nggak sampai gara-gara pembacanya nggak ngerti.

 

Yonasokta14: Ketika Abang membuat novel bergenre horor seperti ini, apakah harus melakukan riset lebih mendalam tentang suatu kejadian tertentu atau menulis sesuai imajinasi yang keluar?

Ahmaddanielo: Riset itu penting, tapi jangan sampai membatasi imajinasi. Begitu kata Mbak Dee.

Kebetulan, semua ide cerita saya berasal dari pengalaman, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain. Kalau ada satu pengalaman yang menurut saya menarik, barulah saya lakukan riset. Biasanya sih langsung mendatangi lokasi. Kalau mentok, saya punya teman yang bisa mempermudah riset saya, namanya ‘Google’

 

Ynssfeb_31: Saya mau nanya, ada nggak sih perbedaan Midnight Restaurant versi Wattpad sama versi bukunya? Apa lebih rinci atau ada tambahan? sebelumnya.

Ahmaddanielo: Midnight Restaurant versi platform/forum boleh dikatakan lebih ramai. Saya menambahkan banyak karakter yang tidak ada di outline. Versi bukunya ada beberapa perubahan dari segi plot, nama karakter, dan latar belakangnya. Kenapa?

Ketika menulis di platform, saya harus menjaga minat pembaca untuk terus lanjut ke chapter selanjutnya dengan menambahkan misteri atau kejutan di setiap akhir chapter. Bahkan seringkali keluar dari outline. Kadang juga bingung gimana balikin plotnya ke jalur yang benar, haha. Tapi di versi buku, semua jadi lebih solid.

 

Hanafrhani: Apa alasan Kakak menulis, terlebih mengambil genre horor dalam novel ini? Lalu, dari manakah sumber ide cerita dalam novel ini? Apakah didapatkan langsung oleh diri sendiri? Apa saja pengalaman-pengalaman seru yang didapatkan selama penulisan novel ini?

Ahmaddanielo: Alasan saya menulis adalah, karena di dunia nyata, omongan saya jarang didengar. Ide saya jarang dipakai. Jadi, saya tuangkan semua itu dalam bentuk tulisan. Awalnya untuk dibaca sendiri, lama-lama punya pembaca juga dan ide serta uneg-uneg saya tadi tersampaikan.

Kenapa horor? Umm sejak kecil saya hidup di pesantren. Gak banyak pengalaman romance. Gak punya televisi untuk menonton film. Yang saya lakukan sama teman-teman ya cuma nongkrong sambil ngomongin kamar mandi angker, ruang madrasah angker, dan lain-lain.

 

Kyna_nixie: Kenapa sih pilih genre horor sebagai spesialisasinya? Apakah agan punya kemampuan khusus melihat hantu-hantu, pure berdasarkan imajinasi, atau mungkin ada idolanya yang nulis horor juga? Terus, ke depannya ada kepikiran pindah genre gak sih? Thriller atau mungkin Dark Romance gitu?

 

Ahmaddanielo: Hai agan, eh agan apa sista ya. Makasih udah ngikutin thread ane di kaskus.

Saya nggak punya kemampuan untuk lihat hal-hal ghaib. Yang nyata saja harus saya lihat pakai kaca mata.

Mungkin karena sejak kecil hidup di kampung, yang mayoritas penduduknya percaya sama hal-hal ghaib, saya jadi terpengaruh.

Saya pilih horor karena saya penakut. Saya memosisikan diri sebagai korban yang sejak kecil sering dikagetkan sama hal-hal aneh yang terjadi di rumah saya. (BTW, saya sudah 4 kali pindah rumah gara-gara alasan yang sama)

Tentang pindah genre… saya ingin coba romance, cuma istri saya langsung protes, “Sama gue aja susah romantis, mau sok nulis romance,” Haha.

 

Lauraangelicasiraitt: Apa yang membuat Abang terinspirasi untuk membuat cerita dengan genre horor? Sedangkan penyuka cerita bergenre horor tidak banyak peminatnya.

Ahmaddanielo: Awal masih menulis di blog, saya nggak mikir selera pasar. Saya sadar minat pembaca di negara kita dominan pada satu genre, tapi saya nggak pernah menikmati menulis cerita selain horor dan misteri. Kalau penulisnya sudah nggak menikmati, gimana pembacanya nanti?

 

midnight restaurantSaya punya tujuh karya di wattpad dan sudah bertahun-tahun gak ada yang menembus view satu juta. Sedangkan cerita dengan genre lain bisa meraih ratusan ribu view dalam waktu beberapa bulan. Saya nggak kecil hati sih. Zaman akan berubah, tren juga berubah. Siapa tahu, suatu saat horor jadi genre yang paling diminati. Jadi, saya dan penulis horor lainnya bisa tersenyum karena sudah jadi bagian dari proses itu.

Penasaran seberapa menghiburnya novel Midnight Restaurant ini? Bagi kamu yang belum memilikinya, bisa langsung mendapatkannya di toko buku langgananmu. Atau, unduh ebook-nya melalui PlayStore ya.

Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa siap berlayar 30 Nov 2019