Ninit Yunita; Hidup Ini Seperti Lari Maraton

NInit

Penulis dan juga penggiat lari ini telah menerbitkan sebuah novel terbarunya yang berjudul Mari Lari di bulan Juni lalu. Filmnya pun telah dirilis dengan judul yang sama dan menarik minat para penikmat film Indonesia. Sebenarnya apa yang mendasari Ninit Yunita membuat buku dengan tema lari? Simak hasil wawancaranya berikut ini.

NInitPenulis dan juga penggiat lari ini telah menerbitkan sebuah novel terbarunya yang berjudul Mari Lari di bulan Juni lalu. Filmnya pun telah dirilis dengan judul yang sama dan menarik minat para penikmat film Indonesia. Sebenarnya apa yang mendasari Ninit Yunita membuat buku dengan tema lari? Simak hasil wawancaranya berikut ini.

Ibu dari dua anak ini adalah seorang penulis novel terbitan GagasMedia dan sering menjadi best seller. Suaminya, Adhitya Mulya, juga seorang penulis novel yang tak kalah populernya. Kesehariannya, Ninit adalah seorang CCO dari theurbanmama.com, sebuah forum yang ditujukan untuk kaum ibu yang tinggal di perkotaan. Bulan Juni lalu, ia menerbitkan sebuah buku yang terinspirasi dari hobinya yaitu lari.

“Buku Mari Lari adalah tentang Rio Kusumo dan Tio Kusumo. Anak dan ayah yang hubungannya kurang baik dan segalanya berubah setelah kepergian Fitri Kusumo, ibu Rio. Rio adalah seseorang yang belum pernah menyelesaikan apapun dalam hidupnya. Setelah ibunya meninggal, Rio bertekad untuk menggunakan bib ibu yang sebelum meninggal akan mengikuti Bromo Marathon bersama bapaknya. Hal ini tentu ditentang Tio karena tahu Rio belum pernah menyelesaikan apapun dalam hidupnya apalagi maraton,” cerita Ninit.

Lari merupakan olahraga yang kini ditekuni oleh Ninit. Sebelumnya ia tidak suka lari. Tapi semenjak ia datang ke acara atamerica, semuanya berubah. Saat itu beberapa teman IndoRunners berbagi info tentang lari. Hal itu membuat Ninit takjub dan memulai lari sampai sekarang. Lari telah membuat dirinya menjadi orang yang lebih baik daripada sebelumnya.

Saat menulis Mari Lari, Ninit memiliki kendala tentang maraton. Ia mengaku bahwa ia sendiri baru memulai lari dengan jarak half marathon. Jadi ia melakukan banyak riset dan bertanya pada teman-teman pelari yang sudah menyelesaikan maraton. Mulai dari seperti apa maraton, sampai apa saja yang mereka hadapi.

Ketika ditanya mengenai buku favoritnya, Ninit mengatakan bahwa buku Mari Lari ini yang menjadi favoritnya. Hal itu karena buku ini sangat dekat dengannya. Ia juga menambahkan, “Saya sangat suka menulis dan lari. Jadi menulis buku dengan tema lari adalah salah satu keinginan saya.”

Mengenai proses kreatif dari pembuatan film Mari Lari, Ninit mencoba menulis skrip film untuk pertama kalinya. Tentu saja berbagai tantangan harus dihadapi, karena menulis skrip sangatlah berbeda dengan menulis novel. Tapi semua itu Ninit lakukan dengan semangat karena ia ingin menyebarkan “virus” lari lebih luas lagi melalui buku dan film. Ia juga banyak berguru dari suaminya, yang sebelumnya sudah 2 kali menulis skrip dan masuk nominasi FFI.

Ninit berharap agar buku dan film Mari Lari menjadi media yang lebih luas lagi untuk menyebarkan virus lari di Indonesia. Ninit juga ingin teman-teman agar tertarik untuk lari karena lari adalah olahraga yang mudah dan murah. Ninit berujar, “Yang menarik, kita tidak hanya mendapatkan sehat saja dengan lari. Olahraga memproduksi hormon endorphin yang membuat kita menjadi lebih bahagia. Jadi, bonus yang menarik bukan?”

Melalui buku ini, Ninit berpesan kepada para pembaca, “Hidup ini seperti lari maraton. Ada yang menyenangkan dan juga membuat kita lelah. Tapi harus ingat bahwa semuanya akan mencapai garis finish, akan selesai. Just keep running. Selesaikan. Jangan menyerah. ☺”


mari-lariIkuti kisah perjuangan Rio Kusumo dalam buku Mari Lari karya Ninit Yunita. Buku yang berkisah tentang bagaimana seseorang yang mudah menyerah, harus berjuang demi pembuktian kepada sang ayah.

beli

fun fearless