Menilik Kegelisahan Raditya Dika dalam Buku Ubur-ubur Lembur
On March 1, 2018 | 0 Comments

Setelah dua tahun vakum dari dunia kepenulisan, tepat di tanggal 1 Februari 2018 lalu Raditya Dika meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Ubur-ubur Lembur. Buku ini menceritakan pengalaman Radit belajar hidup dari apa yang ia cintai, sambil menemukan hal-hal remeh untuk ditertawakan.

“Dari semua pekerjaan yang gue jalani, menulis buku adalah yang paling gue senangi,” tulis Radit dalam bab Prakata Ubur-ubur Lembur. Lebih lanjut ia menuliskan, “Namun, dengan waktu yang semakin lama semakin terbatas, menulis menjadi sebuah kemewahan. Gue pun mulai meninggalkan dunia menulis buku. Sibuk dengan urusan lain”.

Yup, begitulah kegelisahan seorang Raditya Dika saat berbicara tentang karier kepenulisannya belakangan ini. Hingga suatu saat, tepatnya di acara Ubud Writers & Readers Festival, ia bertemu dengan seorang komedian dari Australia. Obrolan ringan dengan komedian itulah yang membawa Radit untuk fokus menulis lagi dan lahirlah buku ke-8 ini.

Melalui buku ini, Radit menceritakan perjalanannya dalam mencari atau meraih cita-cita yang dihiasi dengan beragam problematiknya, termasuk saat ia harus menjalani kehidupan sebagai karyawan yang sangat monoton dan membuatnya merasa kosong—tak punya arti.

“Gue melihat orang yang bekerja kantoran tapi nggak sesuai dengan minat mereka itu seperti seekor ubur-ubur lembur. Lemah, lunglai, hanya hidup mengikuti arus. Lembur sampai malam, tapi nggak bahagia. Nggak menemukan sesuatu yang membuat hidup mereka punya arti. Gue nggak mau jadi ubur-ubur lembur; gue mau punya tulang belakang. Gue mau bisa berjalan di antara kedua kaki. Gue percaya kalau kita hidup dari apa yang kita cintai, maka kita akan mencintai hidup kita”.

Jika dibandingkan dengan buku Radit sebelumnya, Koala Kumal yang lebih memfokuskan cerita cinta Radit, Ubur-ubur Lembur tentunya lebih menampilkan sisi dewasa seorang Raditya Dika. Kecintaannya terhadap dunia menulis mampu membuat Radit memandang sebuah karier dengan sudut pandang yang berbeda dari yang selama ini ia pahami.

Satu hal yang pasti, Radit tetaplah seorang penulis/pencerita yang akan menuliskan kisahnya secara ringan, lucu, dan berdasarkan apa yang ia alami sendiri.

Nah, bagi kamu yang belum membaca Ubur-ubur Lembur, segera saja dapatkan bukunya di toko buku terdekat atau unduh ebook-nya di Play Store.

Silakan Tinggalkan Komentar

More news