Redaksi GagasMedia

Windy Ariestanty, Pemimpin Redaksi
‘Pemimpin redaksi’ dalam kamus Windy sepertinya lebih mendekati tugas pembantu umum. Yup, mulai dari membagi tugas untuk para awak redaksi GagasMedia, mengatur jadwal terbit, hunting penulis, hunting buku, bikin laporan kerja, membuat deadline, mencari percetakan, tawar-menawar harga cetak buku, ngitung harga buku, mimpin rapat redaksi, meeting ama siapa aja, tanda tangan surat segambrengan, jadi sopir, sampai menghadapi komplain dari pihak yang kurang puas, termasuk dari tim sendiri.

Berada di posisi ini membuat: jam tidur berkurang drastis—tapi lebih bisa menghargai waktu tidur, waktu pacaran menipis—yep!, kesabaran harus dipertebal—hard job since you have to meet many people in different characters, punya stok beraneka ragam obat sakit kepala—tentunya yang nggak bikin ngantuk, punya senyum template dan jawaban untuk semua pertanyaan, kemampuan menawar dan merayu yang tinggi supaya dapat harga murah dari percetakan, dibenci orang karena bisa menjelma jadi ‘hantu’ menjelang deadline.

Christian Simamora, Koki Naskah
‘Editor’ versi Christian ibaratnya seorang koki yang mengolah naskah menjadi lebih enak dibaca. bagaimana meracik naskah tersebut agar tampil sedap dan yummy. Seorang koki kan juga dituntut mencari bahan-bahan masakan yang variatif. Nah, seorang editor juga harus bisa menemukan naskah dan penulis yang bakal membuat jenis ‘masakannya’ lebih cihuy.

Berada di posisi ini bikin Christian: lebih sering panik (deadline, deadline, deadlineee!!!), ber-esprit-de-corps ria karena buku-buku yang paling diingat ya terbitan GagasMedia gitu, lebih banyak kenal sama penulis dan orang-orang PH. Terlepas dari itu semua Christian bisa belajar banyak, baik sebagai penulis maupun editor. Karena saat dia mengedit, dia juga belajar dari tulisan itu.

Alit Tisna Palupi, Peri Naskah
‘Editor’ dalam benak Alit adalah seorang peri naskah. Dalam kacamatanya—kacamata dalam arti sebenarnya—seorang editor itu harus bisa memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi pembaca dan penulis. Ibarat peri dengan tongkat ajaibnya, sentuhan editor pada sebuah naskah adalah upaya membuat naskah tersebut layak dibaca. Seperti peri pula, ia harus bisa menjembatani pembaca untuk bisa masuk ke dunia imajinasi penulis dalam bukunya.

Berada di posisi ini bikin Alit: melupakan keinginan untuk libur dan pulang ke Bandung, tapi mengingat lagi pelajaran bahasa Indonesia terutama tentang unsur-unsur intrinsik dalam sebuah tulisan. Belajar menghadapi berbagai karakter orang, belajar ngomong di depan orang juga. Lebih sering ke toko buku buat lihat buku-buku baru dan buku laku.

Annisa Kurnia, Word Designer
‘Editor’ buat ninish bukan sekadar memperbaiki EYD, tapi juga menyusun dan membuat kata-kata menjadi indah, baik itu ketika dibaca atau dilihat secara visual. Untuk mendapatkan buku yang tampilannya utuh secara keseluruhan, Ninish juga matching-in isi cerita dengan tampilan buku.

Berada di posisi ini bikin Ninish: Nggak bisa nolak kalo jadi moderator pas talkshow, nggak punya banyak pilihan kalo lagi deadline—tanpa mengurangi nafsu makan tentunya. Mau nggak mau, harus mengingat lagi pelajaran bahasa Indonesia, sedikit rese kalo nemuin buku yang dia tau editannya nggak beres. O,ya, lebih cerewet kalo ngadepin setter dan editor freelance!

Resita Wahyu F, Dokter Naskah
Profesi editor bagi Resita nggak beda jauh dengan dokter. Makanya dia melabeli dirinya sebagai dokter naskah. Kayak dokter, editor juga harus bisa mendiagnosis penyakit akut si penulis ketika menulis. Dan pastinya, memberikan resep agar penyakit itu berkurang, bahkan kalo bisa sembuh total dong!

Berada di posisi ini bikin Resita : harus jadi orang yang siap ditelepon penulis pukul berapa aja. Editor siaga, bo! Bisa mendeteksi penyakit penulis sejak awal. Rajin ngingetin penulis soal deadline—karena dia juga dikejar deadline, pastinya harus ekstra sabar kalo ngadepin penulis yang sangat menguras kesabaraan dan ngeyelnya bikin tensi darah tinggi meningkat. Ibarat seorang dokter : Resita pun dituntut untuk terus belajar meningkatkan kemampuannya.

Jeffri Fernando, Perupa Imaji
‘Desainer’ dalam benak Jeffri adalah perupa imaji. Menggabungkan berbagai macam unsur. Berusaha menerjemahkan jalan cerita yang ada di dalam naskah ke dalam konsep dan bentuk yang bisa divisualkan semua orang. Dan ini pastinya nggak mudah. Belum lagi, Jeffri masih harus menjaga standar mutu desain dan layout buku GagasMedia agar tetap menampilkan ciri khas penerbitnya. Termasuk konsep desain media promosi GagasMedia. Kalau ada yang mikir tugas desainer itu cuman di balik komputer, yang Jeffri alamin justru sebaliknya. Dia kadang harus ketemu ama penulis untuk ngediskusiin konsep cover bukunya. Jeffri juga punya tugas mulia menyaring dan menjaga kualitas karya desainer freelance GagasMedia.

Berada di posisi ini bikin Jeffri : melahap semua jenis bacaan, mengamati semua jenis desain, mulai iklan, cover buku, sampai kemasan produk apa pun. Frekuensi ke toko buku pun meningkat karena harus melihat perkembangan cover buku. Jeffri pun menjelma jadi ‘font freak’. Tiap kali melihat font yang ada di media apa pun, dia otomatis langsung menebak jenis font yang digunakan. Dan kebanyakannya sih bener. Posisi ini pun bikin jeffri harus belajar nego ke pemasaran, pemimpin redaksi, dan penulis ketika ia mempresentasikan desain-desain cover yang dibuatnya.

Wahyu Suwarni, Pewajah Isi
Setter dalam benak Wahyu adalah membuat buku menjadi lebih nyaman dibaca. Tahu lebih banyak tentang berbagai macam karakter font dan penggunaannya. Wahyu juga harus bisa menyesuaikan karakter font dengan isi buku sehingga pembaca mendapatkan pengalaman yang utuh dari cerita bahkan sejak di settingan isi.

Berada di posisi ini membuat Wahyu menjadi: Lebih ekspresif, seneng baca, dan tahu dunia sekitar.

Dwi Anisa Anindhika, Conceptor Designer
Ngonsepin dari A-Z desain cover yang akan dibuat, mulai dari ide awal sampai finishing cover. Bahkan kadang-kadang Nisa juga mengonsep tampilan buku mulai dari cover sampai isinya. Seringnya, Nisa nggak bisa ngerem dalam mengkhayalkan isi cerita dan menumpahkannya di desain cover. Desain yang seharusnya cukup dibuat 3 alternatif, malah dibuat 4 sampai 6 desain.

Berada di posisi ini bikin Nisa jadi: lebih sering berkhayal dan mengeluarkan imajinasi sebelum tidur. Paginya, langsung buru-buru ke kantor untuk menuangkannya di komputer tercinta. Selain itu jadi sering ke toko buku untuk melihat perkembangan desain terkini. Supaya nggak ketinggalan zaman dong! Kemudian, jadi lebih tau tentang masalah percetakan. Sesuatu yang sebenarnya harus diketahui oleh semua desainer, supaya hasil desain dan finishing cover sesuai dengan yang diinginkan.

Gita Romadhona, Editor GagasMedia
Gita Romadhona percaya profesi editor adalah profesi yang memang akan ditekuninya sejak awal. Jam terbang di dunia edit-mengedit telah dirintisnya sedari ia masih duduk di bangku kuliah. Gita tak bisa sedikit saja melihat kesalahan dalam editan. Apabila ia menemukan kesalahan pada buku yang dieditnya dan buku itu telah terbit, sekecil apa pun itu, bisa dipastikan sepanjang beberapa hari Gita akan kita temukan terdiam di kubikelnya tanpa suara. Tanpa niat untuk makan. Dan tanpa niat untuk ngapa-ngapain selain mengedit (hehehe, di satu sisi ini menguntungkannya. Tapi tetap aja nggak seru!). Dia baru  merasa ‘dosa’-nya terampuni kalau buku tersebut segera cetak ulang dan bisa memperbaiki kesalahan editan sesegera mungkin.

Menjalani profesi editor tampaknya membuat Gita menjadi lebih gampang waswas sekaligus mawas. Lebih bisa menghargai kesalahan edit yang ditemuinya di buku-buku editan orang lain–bo, biasanya Gita no compromise, dan selalu terkesan terburu-buru karena dikejar deadline.

O,ya, jangan ganggu Gita menjelang hari Jumat malam. You can make appointment as long as it is not Friday. Dia punya jadwal wajib yang nggak boleh diganggu loh…

Selengkapnya…

Deta Oktaria, Web Content
Buat Deta, urusan web content tuh ibaratnya jadi kurir atau messenger. Deta harus rajin ke gudang ngambil buku sendiri kalo nggak mau web Gagas telat di up-date. Deta juga harus menyediakan kuping nggak cukup sepasang gara-gara kebanjiaran ide—baca kemauan—redaksi. Which is semua itu bikin hidup Deta tambah ruwet. Belum lagi wawancara kiri-kanan untuk rubrik yang ada di web. Bikin review buku pun nggak boleh telat. Informasi yang up date dan akurat adalah jaminan buat web Gagas. Dan yang menjaminnya adalah si web content girl : Deta.

Berada di posisi ini bikin Deta : menganggap mejanya itu ibarat toko buku. Semua jenis buku ada, bo! Mobilitas tinggi—soalnya dia harus bolak-balik Arteri-Montong. Lebih sabar dan harus bisa menerjemahkan mau semua orang ke dalam web.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.