Semangat Dalam Kesederhanaan

Semangat Dalam Kesederhanaan

Jakarta – GagasMedia. Selasa, 18 November 2008 lalu, GagasMedia mengadakan diskusi buku A Life Less Ordinary karya Baby Halder yang dilaksanakan di Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Indonesia, Depok.

Semangat dalam kesederhanaan—itulah yang dibicarakan Ibnu Wahyudi—pembicara sekaligus Dosen UI dan pengamat Sastra Indonesia mengenai buku ini. Ibnu berkali-kali mengingatkan bahwa semangat yang ada pada diri Baby itulah yang seharusnya menular pada diri kita. Apalagi, kita yang telah diberi banyak kemudahan.

A Life Less Ordinary merupakan sebuah memoar dari seorang wanita yang berjuang demi merealisasikan mimpi-mimpinya. Baby Halder—penulis buku ini—adalah seorang wanita yang terlahir dari keluarga miskin di India. Layaknya kaum miskin di seluruh dunia, Baby tak pernah mendapatkan pendidikan yang layak. Dia dinikahkan dalam usia yang sangat muda dengan seorang laki-laki yang puluhan tahun lebih tua darinya. Perlakuan kasar dan pelecehan kerap didapatnya dari sang suami. Keluarga—Ayah dan kakak laki-lakinya—tak bisa diharapkan. Budaya India, lagi-lagi meletakkan kekuasaan penuh pada suami untuk memperlakukan istri. Meski dengan cara menyiksa. Meski dengan cara membuatnya tak berharga.

Namun, Baby, meski dengan tertatih-tatih, terus berjuang demi mimpinya. Dia berjuang akan kekerasan yang dirasanya tak adil. Sambil membawa ketiga anaknya menjauh dari sang suami, Baby bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Majikan Baby yang seorang profesor ternyata mampu mengobarkan semangat Baby kembali untuk meraih mimpinya. Baby pun belajar membaca dan menulis darinya. Hingga akhirnya kumpulan tulisan Baby terangkum dalam buku ini.

Sebagai sebuah karya terjemahan, menurut Ibnu, ada beberapa distorsi bahasa yang ditemukannya saat membaca buku ini. Ibnu merasa, bahasa yang digunakan FX. Rudy Gunawan saat menerjemahkan sudah bukan lagi bahasa Baby saat menulis. Diksi yang dipilih Rudy terlalu tinggi dan indah untuk takaran Baby yang tak pernah mengenyam pendidikan.

Namun, sebagai karya sastra, menurut Ibnu, buku A Life Less Ordinary sungguh memesona. Cara berceritanya begitu cair, menarik, dan tuturnya khas serta bersahaja. Baby mengundang siapa saja untuk bersimpati padanya, tetapi tidak mengasihani. Baby membuat siapa saja, jatuh hati pada perjuangannya menjelmakan mimpi. Buku ini, saran Ibnu, layak dibaca siapa saja, terutama kita yang sering lupa akan semangat dan membiarkannya padam jauh sebelum menyala.

Maka, bermimpilah, hidup dalam mimpi-mimpi itu. Kemudian, terjagalah dan buat semuanya menjelma nyata. Semua orang berhak menyempurnakan mimpinya. Baby Halder, melalui buku A Life Less Ordinary, telah membuktikannya.

Reported by Gita Romadhona

Leave a Reply

Your email address will not be published.