Wawancara dengan Soffie

  1. Apakah sebelumnya mbak Soffie pernah menulis cerita dan dipublikasikan?
    Aku suka nulis sejak SD. Tapi dulu itu senangnya nulis puisi, jadi yang banyak dipublikasikan di media massa ya puisi-puisiku aja, di antaranya di majalah Bobo dan harian Suara Pembaruan.
  2. Apa yang membuat mbak Soffie memutuskan untuk membuat cerita anak?
    Because I loveeee…children stories! Dari kecil aku emang udah seneng baca. Dari buku-buku petualangannya Enid Blyton kayak Lima Sekawan, Sapta Siaga, trus Trio Detektifnya Alfred Hitchcock, karangannya Arswendo Atmowiloto, sampe komik-komik Tintin, Asterix, Smurf, dll. Kebiasaan ini kebawa terus sampe sekarang. Aku masih suka hunting buku anak-anak buat dikoleksi. Kebanyakan memang dari pengarang dan ilustrator luar. Aku suka banget koleksi buku-bukunya Neil Gaiman dan Roald Dahl, dengan cerita anak-anaknya yang absurd dan imajinatif, terus bukunya Kate DiCamillo yang very inspiring, sama Jostein Gaarder yang jago bikin buku filsafat dari sudut pandang anak-anak. Kalau buat buku bergambar aku seneng karya-karyanya Lauren Child, Shel Silverstein, Sara Fanelli dan Mini Grey. Karena buat aku buku mereka bukan cuma kuat dari segi cerita, tapi juga gambarnya sangat imajinatif dan atraktif. Dari kesukaanku melihat buku-buku anak dari luar inilah aku terpacu untuk bisa membuat buku anak-anak Indonesia yang ‘beda’, tidak menggurui dan ilustrasinya juga nggak biasa, supaya mereka bisa lebih kreatif lagi dan wawasannya juga jadi lebih kaya.
  3. Ceritakan dong, masa kecil mbak Soffie. Pengalaman apa yang tak terlupakan bagi mbak Soffie?
    Dari kecil aku sudah senang baca. Kebetulan keluargaku langganan majalah Bobo di rumah. Karena suka melihat-lihat majalah Bobo sejak belum bisa baca, akhirnya aku bisa baca sendiri! Umur 4 tahun aku sudah bisa baca dengan lancar, jadinya sama ibuku aku langsung dimasukkan ke SD, tanpa lewat TK. Sebenarnya aku sama sekali nggak suka, karena menurutku TK itu kan lebih asyik, isinya main2 terus hehe…Tapi karena masih kecil, ya cuma bisa pasrah. Jadilah aku nggak punya teman TK, hikss…! Selain baca, kenangan berkesan bagiku adalah kesukaanku naik sepeda.  Hampir tiap hari bersepeda. Kalau hari Minggu biasanya sepedaan ke Monas. Pernah juga camping ke ragunan dengan naik sepeda. Sekarang hobi itu sedang aku jalani lagi, setelah sekian lamaaaaa sempat terhenti. Sekarang sih sepedaannya pake sepeda lipat. Jadi aku naek mobil dulu ke Senayan or Ragunan, di sana baru aku sepedaan hehe…curang yah? :p
  4. Apakah cita-cita mbak Soffie sewaktu kecil?
    Seperti anak-anak kecil lain, sewaktu kecil cita-citaku suka berubah-ubah. Pernah aku pingin jadi astronot gara-gara suka mengamati bintang-bintang dari loteng rumah hehe…tapi minat buat menulis sejak SD yang paling kuat memanggil-manggil. Jadi sewaktu SMP dan SMA aku selalu aktif di kepengurusan majalah dinding dan majalah sekolah. Makanya cita-citaku langsung berubah: pengen jadi wartawan dan berkarir di jurnalistik! Nggak ragu-ragu lagi aku langsung milih jurusan Komunikasi di FISIP Universitas Indonesia. Alhamdulilah keterima. Tapi karena di Komunikasi ada program studi periklanan, aku jadi pindah haluan pengen tau dunia iklan itu kayak apa. Syukurnya, aku sempat merasakan bekerja di dunia jurnalistik (di majalah Laras) sebelum menekuni dunia periklanan sampe sekarang dengan menjadi Senior Copywriter di sebuah perusahaan periklanan multinasional. Jadi sebenernya pekerjaanku gak jauh-jauh dari nulis juga! 🙂
  5. Apa dunia anak-anak di mata mbak Soffie?
    Dunia anak-anak adalah dunia yang paling menyenangkan. Apapun yang dilihat dari sudut pandang anak-anak bagiku selalu menarik. Mereka jujur dan polos, sehingga aku ngerasa dunia pasti akan tenteram dan damai jika segala sesuatu dipandang dari kejujuran dan kepolosan hati anak-anak hehehe…Mereka juga sangat kreatif dan peka terhadap perubahan. Jadi mereka nggak akan puas bertanya jika ada sesuatu yang ‘ganjil’ di mata mereka sebelum menemukan jawabannya. Makanya aku lebih senang nulis cerita anak-anak karena buat aku ‘mencuri’ perhatian mereka itu jauh lebih menantang, dibanding mencuri perhatian orang dewasa. Karena aku bisa lebih bebas berimajinasi dan bermain dalam kerangka pikiran mereka.
  6. Sejak kapan mbak Soffie suka menulis?
    Jawabannya sama kayak yang No. 1 ya 🙂
  7. Bagaimana membagi waktu antara menulis dan bekerja?
    Hmm…terus terang memang agak sulit dengan pekerjaanku yang amat sangat menyita waktu ini hehe…Kalo bekerja di periklanan itu kan gak kayak orang2 kantoran lainnya yang 9 to 5. Pulangnya sering nggak tentu, kadang harus lembur tiap malam, kadang harus masuk kerja  pas weekend, kadang juga kalau lagi syuting iklan TV bisa pulang sampai pagi 🙁 Tapi yah karena aku suka nulis, aku berusaha meluangkan waktu sebisa mungkin. Misalnya pas weekend, atau curi-curi di saat jam kerja kantor (kalo lagi gak banyak kerjaan hehe..). Tapi pernah waktu nulis cerita-cerita lain setelah Rambut Messy, aku khusus ngambil unpaid leave selama sebulan di kantor yang lama, biar lebih konsentrasi nulis. Hasilnya semoga saja bisa segera dinikmati setelah dua buku yang udah terbit ini ya 🙂 Tapi dalam hati kecilku sih aku berkeinginan suatu saat nanti bisa mendedikasikan waktu lebih banyak lagi buat berkarya di bidang ini. Karena sekarang masih dirintis dan masih awal banget, jadi aku harus bersabar dulu kayaknya hehe…
  8. Ada pengalaman menarik sewaktu mengerjakan buku Wullie Si Pemarah dan Rambut Messy? Kalau ada bolehkan berbagi ceritanya?
    Terus terang kedua buku ini aku tulis dari pengalaman pribadi loh hehehe..Kalau Rambut Messy sejujurnya ini masalahku banget, karena aku ngerasa punya rambut ‘paling susah diatur’ sedunia! hehehe…Aku ngerasa masalahku ini bukan cuma masalahku aja. Pasti ada yang pernah ngerasa benci sama rambutnya lah, atau jerawatnya lah dll. Yang bisa kita lakukan hanyalah ‘berdamai’ dengan masalah tersebut. Caranya: ya dihadapi saja dengan tertawa! Nah, pengalamanku ini yang mau aku bagi dengan anak-anak supaya mereka lebih ‘santai’ memandang persoalan yang sebenernya ‘not the end of their world’. Kalau Wuli Si Pemarah karakternya juga aku ambil dari pengalaman pribadi, dari salah seorang temanku yang memang hobinya suka marah-marah. Kalau sudah marah, orang-orang sering nggak menyangka, kemarahan yang meletup-letup bisa keluar dari badan sekecil itu hahahah…Aku pengen kasih lihat kalau marah itu cuma salah satu ekspresi emosi kita yang wajar sesekali kita tunjukkan. Tapi…asal kita bisa mengontrolnya dan harus tahu kapan waktunya benar-benar marah.
    Banyak loh temen-temenku yang setelah baca bukuku bilang “Ihh, Wuli tuh gue banget ya!” atau “Di kantor gue ada loh yang anaknya kayak Messy. Malah dia ngerasa cerita itu bener-bener nyeritain dia” Aku sih senang dan lucu-lucu aja dengernya.
  9. Bagaimana proses pengerjaan kedua buku tersebut? (Maksudnya, apakah storyline dikerjakan terlebih dahulu baru membuat naskah dan gambar atau sebaliknya).
    Cerita Rambut Messy itu sudah lama aku buat, kira-kira 4 tahunan lalu. Waktu itu aku lagi datang pagi di kantor yang masih sepi. Iseng-iseng aku tulis cerita ini yang sampe kelar ternyata cuma butuh waktu 2 jam-an. Setelah itu aku sharing cerita ini ke Dina, yang langsung membuat ilustrasinya. Kebetulan kita partner kerja di kantorku yang lama dan punya minat yang sama tentang buku anak-anak jadi ‘chemistry’ kita nyambung. Prosesnya gak jauh beda dengan proses kita bikin iklan, dimana kita brainstorming bareng menyamakan persepsi. Jadi aku ngerasa ilustrasi Dina memberi ‘nyawa’ bagi ceritaku. Dia bisa menerjemahkan apa yang ngga tertuang dalam tulisan ke dalam bentuk visual.
  10. Media apa, sih, yang digunakan untuk membuat ilustrasi di dalam buku Wullie Si Pemarah dan Rambut Messy? (Apakah kertas dengan cat air, atau menggunakan photoshop dll).
    Buat dua pertanyaan ini aku jawabnya gabung aja yah! Dina gambarnya bener-bener manual! Makanya, aku acungin jempol banget buat usaha dia bikin ilustrasi di buku-buku ini hehe…Jadi dia bikin sket dulu hitam putih, setelah oke baru di-outline dan diwarnai dengan cat air. Setelah itu baru deh semuanya di-scan untuk di layout. Jadi proses ngewarnainnya bener-bener dia kerjakan satu-satu, gak diwarnain lewat komputer yang pastinya jauh lebih cepet. Makanya aku berani bilang kalo ilustrasi Dina itu jadi ‘nyawa’ bagi ceritaku dan pastinya ini yang jadi kelebihan buku kita dibanding buku anak-anak kebanyakan (hehehe…nyombong dikit gak apa2 dong? :P)
  11. Bagaimana proses bertemu dengan GagasMedia?
    Wahhh…kalo aku boleh bilang ketemu Gagas itu ibaratnya ketemu jodoh 🙂 Butuh proses dan pencarian yang lama sebelum nemu penerbit yang pas. Kita pernah presentasi ke penerbit ternama, tetapi karena suatu dan lain hal, kita ngerasa kok banyak yang gak sejalan (gak usah aku beberin deh ya alesannya). Maklum deh karena kita berdua menawarkan sesuatu yang ‘gak biasa’ pasti jadi ada benturan kepentingan. Setelah itu kita bertemu penerbit independen yang awalnya setuju buat nerbitin buku kita, Tapi setelah lama ditunggu-tunggu muncul kabar kalau belum ada dana buat nerbitin. Setelah dipikir-pikir, akhirnya kita kepikiran buat joint production sama mereka. Pokokya kita pengen buku ini cepet-cepet terbit deh setelah sekian tahun terkatung-katung. Pas di saat itu semua nyaris terlaksana, temanku ngenalin kita ke Alit dari GagasMedia dan ternyata responnya sangat positif. Sampe awalnya kita nggak percaya ada penerbit yang mau langsung nerbitin buku kita tanpa mengubah konsep apapun yang udah kita buat dan dalam waktu singkat pula! Yah, itulah yang namanya jodoh 🙂
  12. Dibutuhkan waktu berapa lama untuk mengerjakan satu buah buku hingga selesai?
    Bikin ceritanya sih kalo lagi mood banget sehari juga bisa selesai. Paling setelah itu di fine tune aja biar lebih oke! Biasanya aku suka bikin beberapa alternatif ending trus aku share ke Dina dan ke beberapa orang-orang terdekat. Dari situ aku dapet masukan, ending mana yang lebih pas, ceritanya udah oke atau belum. Terus aku juga share ke target market kita yaitu anak-anak, karena komen dari mereka pasti lebih valid. Tapi biasanya lebih oke di-share ke anak-anak kalo gambarnya juga udah selesai, jadi mereka bisa ngeliatnya sebagai satu cerita yang utuh. Nahh…yang lama itu adalah ngegambarnya, pasti! Hehe..Biasanya kalo ngebut Dina bisa gambar paling cepet 1 – 2 bulan sampe kelar. Maklum deh, Dina juga ‘kuli’ kayak aku, jadi cuma punya waktu kalo weekend 🙂
  13. Apakah mbak Soffie dan  mbak Dina adalah partner di kantor, lantas terbersit ide untuk membuat buku bersama?
    Bisa dibilang Dina itu ‘soulmate’ nya aku dalam hal bikin buku anak-anak. Soalnya visi, misi dan interest kita banyak yang sama. Kira-kira 6 tahun yang lalu kita pernah sekantor dan partner dalam kerjaan. Biasanya kalo di advertising itu kan copywriter selalu partneran sama art director. Nah, Dina itu salah satu partnernya aku. Dari situ kita bersahabat dekat terus sering sharing banyak hal. Termasuk kesukaan mengoleksi buku anak dari pengarang dan ilustrator favorit yang ternyata juga banyak yang sama. Kita sering hunting buku anak bareng. Biasanya kalo salah satu lagi ada yang keluar negeri pasti titip2an buku hehe…Dari situ tercetus keinginan untuk bisa bikin buku anak yang paling nggak bisa nyamain dengan buku anak luar. Soalnya buku anak luar itu menurut kita idenya sangat ‘liar’, ilustrasinya pun niat banget. Mungkin apa yang kita buat sekarang masih jauh dari sempurna, tapi paling nggak kita masih punya cita-cita karya kita benar-benar bisa menawarkan alternatif bacaan baru buat anak-anak Indonesia.
  14. Apakah pesan moral yang hendak mbak Soffie sampaikan memalui kedua buku tersebut?
    Seperti yang sudah aku sebut di atas, di Rambut Messy aku ingin semua anak-anak bisa menerima kekurangan mereka dan menghadapinya dengan senyuman. Sementara di Wuli Si Pemarah aku ingin anak-anak tahu bahwa kemarahan hanyalah salah satu bentuk ekspresi yang tidak apa-apa sesekali ditunjukkan, asal tahu kapan waktunya harus benar-benar marah dan harus bisa mengendalikannya. Pada dasarnya, di kedua buku ini aku ingin anak-anak Indonesia menemukan solusi dari masalahnya sendiri dan bisa menghadapi setiap masalah dengan penuh keceriaan, tanpa harus merasa digurui. Menurut aku buku anak-anak itu tetap harus menghibur, walaupun sarat akan pesan. Sehingga mereka tidak merasa sedang ‘diceramahi’ oleh orang tua atau guru mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published.