Ada mimpi yang lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari rasa takut kehilangan arah pulang. Dari tempat tak ramah yang juga tak layak disebut rumah. Dari seorang anak yang diam-diam berjanji pada dirinya sendiri untuk suatu hari bisa hidup lebih layak—meski belum tahu caranya.
Kisah ini membawamu menyusuri perjalanan panjang tentang keterbatasan, luka batin, rasa tidak pantas, dan perjuangan menerima diri sendiri. Tentang bagaimana penolakan dan kehilangan bisa membuat seseorang hampir menyerah pada hidupnya sendiri. Namun, harapan kecil—yang sering dianggap sepele—justru menjadi alasan terkuat untuk bertahan.
Kamu tahu? mimpi bukan hanya soal pencapaian besar, tetapi juga keberanian untuk tetap hidup ketika dunia menghantam terlalu keras. Tentang bangkit pelan-pelan, meski hati belum sepenuhnya sembuh. Tentang belajar percaya bahwa masa lalu yang pahit tidak harus menentukan masa depan.
Jika kamu pernah merasa tertinggal, merasa “kurang”, atau bertanya-tanya apakah hidupmu masih punya arah, kamu nggak berjalan sendirian. Kisah ini akan membuatmu merasa dilihat dan dipahami selayaknya seorang teman. Karena selama kamu nggak berhenti percaya, mimpi dalam hidupmu belum selesai—dan selalu pantas diperjuangkan.




