Jangan Berlebihan, Nanti Kelewat Cinta Lho!

header hate first you later

Jangan benci berlebihan, nanti malah kelewat cinta, lho! Ungkapan itu sepertinya cocok untuk menggambarkan hubungan antara Gwen dan Bara. Yup, kisah antara bawahan dan atasan ini bisa kamu baca dalam novel Hate First, Love You Later karya Nimas Disri.

Seperti kita ketahui, memiliki perasaan khusus dengan teman satu kantor memang terkadang bikin greget. Apalagi jika yang disukai adalah bawahan atau atasan yang kelakuannya nyebelin. Begitu pun saat kamu membaca novel Hate First, Love You Later ini. Nggak percaya? Beberapa temanmu sudah membuktikannya, lho. Yuk, kita simak review mereka satu per satu.

Orang pertama yang jatuh hati pada novel ini adalah Elisabeth_beatrice. Selain karena kover yang menarik, layoutnya yang bagus, dan bookmark yang cute, Elisabeth_beatrice juga langsung tertarik saat membaca blurb. Over all, menurut Elisabeth_beatrice buku ini sangat menarik dan membuat kamu nggak bisa berhenti saat membacanya.

Selanjutnya ada Pluviobook_ yang turut mereview novel ini melalui akun Instagram. Seperti halnya Elisabeth_beatrice, Pluviobook_ juga membahas tentang kover buku yang bagus dari sisi tampilan dan warnanya. Selain itu, menurut Pluviabook_, jalan ceritanya cukup membuat penasaran. Konflik yang disajikan pun cukup beragam. Bukan hanya masalah pekerjaan di kantor, tetapi juga kehidupan kedua tokohnya yang ternyata saling terkait.

 

BACA JUGA Hate First, Love You Later; Kisah Cinta Bos Supercuek

 

Setelah Pluviobook_, kini giliran Canolareads yang mereview buku Hate First, Love You Later. Lagi-lagi, kover yang ciamik menjadi daya pikat novel Nimas Disri ini. Selain itu, Canolareads yang pada dasarnya menyukai tema office romance menuliskan, bahwa novel ini bikin greget dan gemas dengan interaksi antartokoh. Meski ide cerita terbilang umum, menurut Canolareads, penulis tahu cara mengemasnya sehingga novel tersebut menarik untuk dibaca. Sedangkan untuk konfliknya sendiri, novel ini cukup mempermainkan perasaan pembaca.

Review selanjutnya datang dari Inosaftr. Menurutnya, kisah ini beneran campur aduk. Manis, baperin, nyesekin, ngeselin, gemesin, dan bikin jatuh cinta dalam waktu bersamaan. Tidak hanya itu, Inosaftr juga menyukai cara Nimas Disri mengemas cerita tersebut. Gaya bahasa yang digunakan pun ringan, mudah dipahami, dan sesuai dengan zamannya. Dan, yang tak kalah keren, adalah kover serta judulnya yang menurut Inosaftr lucu.

Serupa dengan keempat reviewer sebelumnya, Rizkymirgawati setuju bahwa kover buku ini memang eye-catching. Tidak hanya itu, Rizkymirgawati juga mengungkapkan bahwa Nimas Disri mampu mengemas kisah benci jadi cinta ini dengan caranya sendiri sehingga tema yang β€œmainstream” sekali pun tetap menarik untuk dibaca. Hal lain yang menjadi perhatian Rizkymirgawati adalah interaksi antartokoh yang menarik untuk diikuti.

Seru, kan? Bagi kamu yang belum membacanya, buruan dapatkan bukunya. Buku ini sudah bisa kamu dapatkan di toko buku terdekat. Atau unduh ebook-nya melalui PlayStore ya.

 

Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa siap berlayar 30 Nov 2019