Mencari Makna Sebuah Tanya

Mencari Makna Sebuah Tanya

Apa yang akan kamu lakukan jika ingin mengetahui tentang sesuatu hal? Bertanya, mungkin menjadi salah satu jawabannya. Maka, bertanyalah selagi pertanyaan itu menggelayuti pikiranmu.

Layaknya seorang anak kecil yang memiliki rasa ingin tahu, tidak jarang kita pun selalu penasaran dengan segala macam jawaban dari hal-hal yang kita lihat atau rasakan. Bahkan terkadang, pertanyaan itu adalah pertanyaan sepele. Seperti, “apa itu bahagia?”

Jawaban dari pertanyaan tersebut tidaklah bisa disamaratakan. Tiap orang memiliki definisi sendiri dari kebahagiaan, karena tiap orang akan melalui jalan yang berbeda dalam mencari kebahagiaan itu. Mungkin saja, dengan memiliki uang banyak, mobil mewah, atau rumah bertingkat, seseorang bisa bahagia. Atau mungkin, seseorang akan bahagia jika ia mengetahui bahwa dirinya begitu bermakna bagi orang lain.

Begitupun dengan Zira. Ia memiliki pandangan yang berbeda tentang makna kebahagiaan. Baginya, kebahagiaan adalah ketika mendapati Marva tersenyum karena kehadirannya. Kebahagiaan adalah mengetahui bahwa ketika dirinya merindukan Marva, Marva pun merindukannya. Kebahagiaan adalah ketika ia menyadari bahwa cintanya terhadap Marva tidak bertepuk sebelah tangan.

Bagi Zira, kebahagiaan ia temukan saat Marva mengucap, “terima kasih” dengan tulus kepadanya. Dan, ketika Marva tersenyum saat mengajukan “maaf”, lalu berkata, “Aku juga tak pernah luput dari alpa, Zira.”

Ya, di saat seperti itulah Zira dapat berucap bahwa Marva adalah kebahagiaannya. Lantas, bagaimana dengan kamu?

A Cat in My Eyes merupakan kumpulan sketsa, prosa, dan cerita karya Fahd Djibran yang diterbitkan oleh GagasMedia. Cerita yang terangkum dalam buku ini berisi tentang berbagai pertanyaan yang mungkin klise, tapi sangat penting. Jika dibaca sekilas, cerita dalam buku ini terkesan tidak beraturan, tapi pada akhirnya kamu akan menemukan satu kesatuan tema dan gaya.

Profil Penulis
Fahd Djibran adalah seorang pejalan jauh. Senang menikmati udara malam dan ruas-ruas jalan yang lengang. Lebih suka sendirian pada waktu-waktu tertentu. Labirin buku-buku. Menyeruput Espresso atau Cappuccino. Meditasi. Pengidap insomnia. Notebook. Kertas-kertas lusuh di saku belakang celananya.

Baginya hidup adalah men-decode setiap peristiwa, titian, dan tanda menjadi makna. Ia lebih senang duduk lama di ruang tengah. Menunggu orang-orang datang. Menyaksikan orang-orang berlalu lalang. Dari depan ke belakang. Dari kiri ke kanan. Meniti tangga dan menuruninya. Menunggu mereka memutuskan untuk duduk bersama dan ngobrol. Bercerita. Berimajinasi. Bercanda. Tertawa bersama. Berbagi keluhan. Membicarakan tetangga yang kecurian tadi malam atau membahas harga solar yang terus naik.

Waktu baginya adalah mimpi. Kadang seperti sebuah lingkaran. Sesuatu yang berubah menjadi tiga wajah garis lurus vertikal, horizontal, dan membujur. Atau sesuatu yang berlaku dengan jutaan kemungkinan yang pasti. Ia kesulitan mengenali dirinya sendiri. Menghafal orang dari wajah dan caranya berpakaian. Kekasih yang jauh. DVD. Film bagus. Andrea Bocelli. Jazz atau Rock n Roll. Muhammad dan Einstein. Sains, filsafat, dan spiritualitas. Musik. Pantai. Sepak bola. Persib. Di atas semua itu, ia lebih tepat disebut orang gila. Untuk ngobrol dan berdiskusi kirimlah email ke fahdisme@yahoo.co.id atau berkunjunglah ke www.ruangtengah.co.nr.

Leave a Reply

Your email address will not be published.